Minggu, 17 Januari 2016

Review : Revered Back by Inggrid Sonya



Judul : Revered Back
Harga : Rp 73.800,-
Jumlah Halaman : 418 hal
Genre : Teenlit
Penerbit : Elex Media Computindo

-Membunuh luka? Katanya, memaafkan adalah caranya-

Warning : Review ini bersifat subjektif dan berpotensi spoiler!

Dari mana aku harus mulai? Novel ini sukses bikin aku baper dan histeris sepanjang 418 halaman!
Kalimat demi kalimat yang membangun paragrafnya benar-benar sempurna dan diksinya mahadewa. Outline ceritanya kompleks. Karakternya jempolan. Aku sampai nggak percaya, serius nih penulisnya lebih muda 4 bulan dari aku?! #edisienvy

Dari awal baca aku udah kasian banget sama Jana, sebel kuadrat sama Dimi, dan nggak sabar nunggu kemunculan Cakra. Penulisnya benar-benar mahir menyiratkan tentang cinta bertepuk sebelah tangan, pembacanya jadi berasa baca diary *digeplak Inggrid wkwkwk* berhubung ada banyak yang mau aku bahas, aku bagi jadi 2 poin. Pertama poin-poin yang bikin aku histeris, kedua poin-poin yang bikin aku berkerut kening.

I. Poin-poin yang bikin aku histeris :
1. Lagu All Time Low. Fix, didetik aku baca Cakra muter lagu That Girl di radio sekolah, aku jatuh cinta sama dia. Terus di beberapa halaman kemudian dia nyanyi Bad Enough for You, aku jejeritan! Aku fans mati ATL, bayangin dinyanyiin gitu … panas-dingin! #kode wkwkwk
2. Hal 134 : Cakra bilang dengan polos (yang aku yakin nggak terlalu polos) “Udah. Nggak usah nangis lagi. Tuh, lihat Doraemon-nya udah pelukan sama Nobita.” Hahaha asli di sini antara pengen nyekek sama meluk. Nih cowok di saat-saat nyesek sempet banget ngelawak.
3. Hal 143 : Cakra bilang, “Kalau Bapak emang nggak sayang sama anak Bapak lagi … Bapak bisa kan untuk nggak nyakitin orang yang saya … sayang?” Wahhh semaput aku baca ini. Kalau aku jadi Jana, udah aku geret Cakra ke KUA terdekat! *ditimpuk fans Cakra*
4. Hal 226 : “Mekanisme pertahanan hidup. Itu yang lo lakuin selama ini.” Cakra menoleh, menatap Jana lekat. “Lo bukan monster.” Dan aku cuma bisa nangis sambil bilang makasih. Makasih, Cakra. Kamu ngasih jawaban yang selama satu minggu ini aku cari :’)
5. Hal 307 : Menentukan notasi sel volta. Taruhan era kekinian. Asliiii bikin ngakak guling-guling. Yang bikin lucu karena gurunya bahkan helpless lihat anak muridnya rebutan temen duduk kayak anak TK.

II. Poin-poin yang bikin aku berkerut kening :
1. Penggunaan kata ia dan dia. Dua kata pengganti ini nggak konstan pemakaiannya. Kadang ia, kadang dia. Bahkan ada di satu kalimat nyampur. Ini bukan hal besar, nggak ngaruh ke novelnya juga, tapi aku sebagai pembaca yang rewel agak ganjel bacanya. Semoga novel berikutnya lebih konsisten ya ^_^
2. Penggunaan kata jengah. Ini terlaluuuu banyak diulang. Okelah diksinya memang jempolan, jadi ini bisa tertutupi. Terus ada di beberapa halaman, kata jengah ini kurang cocok buat dipakai. Lebih cocok pakai kata kesal atau sebal. Ini penilaian subjektif aku ya, no offense.
3. Penggunaan kata mendengus. Ini juga sama, banyak diulang. Bahkan ada satu paragraf mendengusnya dua kali. Bukan apa-apa, aku jadi keinget sapi XD maaf, Inggrid~
4. Hal 166 tiba-tiba langit cerah lagi. Padahal di beberapa halaman sebelumnya, dideskripsikan langit kelabu, kayak hatinya Jana. Lalu pindah setting ke rooftop dan simsalabim langitnya cerah lagi. Mungkin bisa smooth perpindahannya kalau dikasih kalimat penjelas semacam langit yang gelap kini mulai cerah lagi karena bla bla bla atau lain-lain.

Terlepas dari poin-poin di atas, aku benar-benar suka novel ini. Aku terserap ke dalamnya. Tersihir sampai nggak bisa berhenti baca sebelum bukunya habis. Ini rekor setelah 3 tahun terakhir aku berhenti baca teenlit. Aku benar-benar suka cara penulisnya merangkai kata. Perkara istirahat aja bisa jadi istimewa. Belum lagi nama-nama karakternya yang ‘segar’ hahaha sesuai seleraku! Sebab-akibatnya jelas, ceritanya juga mengalir lancar. Aku rasa, apa pun yang mau penulisnya sampaikan lewat novel ini sukses tersampaikan. Banyak pembelajaran juga dari novel ini. Dan benar, remaja itu bukan cuma soal sekolah dan cinta. Ada banyak di antara mereka yang punya luka terpendam dan hidup yang gelap. Novel ini secara nggak langsung ngajarin kita buat terus bertahan. Kita nggak sendirian. Setiap yang bernyawa pasti punya masalah, yang bikin dia ngerasa kematian bukan hal buruk lagi, tapi kita nggak bisa nyerah. Karena itulah hidup. Nggak terus tentang sedih, nggak melulu tentang bahagia.

Pokoknya aku suka banget novel ini! <3

Selasa, 25 Agustus 2015

Mini Gathering Penulis Elex


Hari Sabtu kemarin, tanggal 22 Agustus 2015, aku terpilih jadi salah satu dari 30 orang yang beruntung buat menghadiri acara gathering penulis Elex.
Memang kamu penulis Elex?
Masih calon, tapi kata Mba Naya, harus pede dari sekarang :p hihihi mari berdoa semoga editor kita tersayang Mba Afri akan menerima naskah Eternal Flame yang sudah revisi itu *komat-kamit berdoa*

Tujuan aku nulis ini ... mau pamer foto ^^ #plaaak! Acaranya dimulai jam 9 lebih dikit (banyak sih, tapi sibuk ngobrol jadi nggak ngitung wkwkwk) yang jelas, acaranya SERU BANGET! *maaf capslock keinjek gajah*

 Duo MC terbadai abad ini! Hahaha Mba Afri & Mba Intan, peaceee ya! 

Ada Mas Yodha juga Mas Edgar! 
Hihihi nggak inget jelasnya, pokoknya Mas Yodha itu bagian IT, 
kalau Mas Edgar satu tim sama Mba Indah di Prolis.

Elex memperkenalkan portal web-nya yang baru, yaitu Elexmedia.id serius kecenya karena wattpad, facebook, juga twitter, tumplek jadi satu di sana! Surgawi banget bagi para author dan reader. Siapa pun bisa bikin akun, lalu post cerita di sana. Benefit-nya? Selain dapat poin buat setiap postingan, ada kesempatan juga supaya naskah kita dilirik editor! Wiiiih, keren banget, kan?

Selain itu, ada ulasan soal Gramedia.com juga. Online shop yang sementara ini jualan buku. Ke belakangnya sih bakal lebih besar dan lebih macam-macam lagi jualannya. Tapiiii, koleksi bukunya itu lengkap! Kayaknya beli buku apa pun di sana pasti ada deh. Sekali-kali harus jajal nih hehehe.


Nggak ketinggalan, ada pembahasan soal siklus novel yang masuk ke toko buku, contohnya Gramedia. Kita kedatangan dua pembicara, Mas Yoyok dari Gramedia AON dan Mba Indri dari Gramedia Pondok Gede. Kita dikasih penjelasan dari awal novel masuk ke toko, sampai akhirnya di-return kalau memang kurang laku. Semoga semua penulis Elex novelnya laris-manis, amin!

Mba Indri yang sedang menjelaskan tentang buku best seller.

Pulang dari acara gathering ini, selain hati happy, aku bawa ilmu yang lumayan banyak juga. Memang benar, perjuangan penulis itu nggak berhenti waktu novelnya terbit. Justru harus makin berjuang karena setelah novelnya terbit, penulis harus heboh mempromosikan novelnya. Biar nggak kenalan sama si return. Nyesek euy denger pengalaman dari penulis-penulis pro lain yang sempet kenalan sama si return hiks.

Oh ya, acara ini kedatangan tamu spesial lainnya lho. Dia adalah seorang penulis merangkap scriptwriter. Keren banget! :D


Dan ta-daaaa! Aku pulang bawa banyak oleh-oleh hihihi ada goodie bag super kece, notebook, novel, juga voucher belanja gramedia senilai Rp. 50.000,-


Nah, ini sesi pamernya. Jangan iri ya, aku akhirnya bisa foto sama editor-editor kece, juga penulis best seller yippie~~

 
 Foto bareng Jenny Thalia Faurine, penulis best seller Elex yang baru nerbitin novel Wedding Rush.
Jangan lupa beli ya, guys!

 
Foto bareng Mba Afri, editor novel fiksi, yang kebetulan ngedit Eternal Flame juga.
Semoga gathering berikutnya full member grup Bekasi 
bisa foto bareng editor kesayangan kita ini ya! ^^

Nah, ini foto bareng Mba Dita, editor novel fiksi juga. Nggak kalah cantik sama Mba Afri hihihi~

Mba Naya, Emak KY, dan aku. Trio dari grup Bekasi yang paling rusuh.
Mba Dian dan Susi foto barengnya nyusul ya! ^^ 

Semoga makin sering diadain acara gathering keren semacam ini. Sooo happy bisa ngabisin waktu bareng orang-orang yang punya passion yang sama :) Terima kasih buat Elex Media yang sudah jadi penyelenggara, juga sudah menyediakan wadah buat kita di Elexmedia.id. Semoga makin sukses! Amin...



P.S : Semua foto yang ada di sini kuambil dari koleksi foto Mba Naya hihihi makasih Mba Nay! :D

Minggu, 23 Agustus 2015

Review : Mask (Drama Korea)


Drama ini mengusung tema doppelganger, perebutan kekuasaan, juga balas dendam. Pada intinya, genrenya melodrama. Khas ahjumma #plak!
Soo Ae yang berperan ganda sebagai Byun Ji Sook dan Seo Eun Ha, dipasangkan dengan Joo Ji Hoon sebagai Choi Min Woo. 


Lalu ada Yu In Yeong yang berperan sebagai Choi Mi Yeon, kakak Min Woo, sekaligus istri dari Yeon Jong Hun yang dalam drama akan kita panggil sebagai Min Seok Hoon. Alias si tokoh antagonis dalam drama ini.


Cerita ini dimulai dengan kesepakatan pernikahan antara Eun Ha dan Min Woo. Mereka ‘nikah kontrak’ istilah gampangnya. Eun Ha supaya pilpres ayahnya sukses, sementara Min Woo supaya bisa jadi pewaris. Usut punya usut, ternyata Eun Ha ini punya affair sama Seok Hoon yang menikahi Mi Yeon (kakak Min Woo) dengan niat balas dendam pada keluarga Choi.



Namun sebelum pernikahan terjadi, Eun Ha meninggal karena tenggelam di kolam renang kediaman keluarga Choi. Tidak ada satu pun yang tahu kecuali Seok Hoon. Dan Seok Hoon yang dendamnya sudah di tahap membutakan, menolak untuk menyerah. Dia tetap menjalankan rencananya, dengan cara mencari pengganti Eun Ha.


Byeon Ji Sook adalah wanita yang pada akhirnya menggantikan Eun Ha. Dia bekerja sebagai SPG dan ayahnya terlilit hutang yang besar. Seok Hoon berhasil memaksa Ji Sook untuk menjadi sekutunya dan memalsukan kematian Ji Sook, sehingga akhirnya Ji Sook pun hidup sebagai Eun Ha.


Ji Sook menikah dengan Min Woo. Awal pernikahan yang cukup lucu sebenarnya, karena Ji Sook yang baik harus bersabar menghadapi Min Woo yang super cerewet, punya OCD, juga punya pemikiran bahwa Ji Sook hanyalah wanita mata duitan.


Tapi yaaaah namanya juga drama korea, cinta pasti tumbuh di antara dua orang berbeda kasta ini—meskipun Min Woo nggak tahu kalau Ji Sook itu sebenarnya bukan Eun Ha.


Untuk cerita lengkap, monggo ditonton langsung dramanya ^_^ hihihi dijamin bakal ikut gigit-gigit guling karena gemes.

Satu kalimat yang bikin gue bertahan di awal nonton drama ini adalah : if you wear a mask, you will never be happy. Well, is it true? ‘Cause I have to admit, I wear a mask too. And I’m happy.
Gue salah satu dari sekian banyak orang yang membenarkan quote dari Joker : give a man a mask and he’ll become his true self.

Pada akhirnya, drama ahjumma yang awalnya gue bilang nggak akan gue tonton ini jadi salah satu drama terbaik versi gue di tahun ini. Bukan cuma karena storyline-nya yang kompleks juga pemainnya yang keren, tapi gue juga suka baju-baju yang dipakai Soo Ae #blepok! Hahaha pokoknya, outfit-nya lucu-lucu ^_^

Daaaan ada di imut Hoya di sini!!! *histeris* Dia kebagian peran sebagai Byun Ji Hyuk, adiknya Ji Sook. Duh, karakternya keren. Cinta keluarga, selalu dukung kakaknya juga. Bikin baper #eh

See? Imut banget si abang satu ini! >.< 



Selalu suka scene-scene manis antara Ji Sook dan Min Woo. Khusus untuk Min Woo, dia ini tipe cowok yang gengsian hahaha lucu deh lihat interaksinya mereka. Selalu sukses bikin senyum-senyum sendiri.






Waktu Min Woo tahu Ji Sook sebenarnya buka Eun Ha, mereka berniat mau cerai. Tapi yang lucu, waktu bagian mediasi, mereka bukannya curhat soal kejelekan pasangan, malah curhat soal gimana pasangannya mereka itu sempurna buat mereka. Hihihi sweet banget!


Oh ya, soal OCD-nya Min Woo, dia itu selalu berhalusinasi setiap lihat air. Penyebabnya karena dia trauma, waktu kecil ibunya meninggal tepat di depan matanya sendiri karena berusaha menyelamatkan Min Woo yang tenggelam. Min Woo bahkan nggak suka disentuh, nggak suka tidur bareng orang lain, juga selalu mimpi buruk. Tapiiii lambat laun Ji Sook bisa menyembuhkan Min Woo. Benar ya, kekuatan cinta itu lebih dahsyat dari obat! Xixixi~


Sedangkan Seok Hoon dan Mi Yeon *sigh* gue sebel sama Seok Hoon yang tetap hidup sama kebencian juga dendamnya. Heran deh, punya istri cantik, kerjaan bagus, juga hidup mapan, ngapain lagi dia bikin huru-hara? Tapi namanya juga drama, nggak ada yang jahat nggak asyik.

Waktu selesai nonton drama ini, gue dapat inspirasi soal hidup sama dendam. Buat dibikin novel #plaaak! Hahaha okelah sekian review gaje ini. Jangan ditambahin, nanti gue dilemparin tomat XD
Sampai bertemu di review selanjutnya! ^_^

P.S : Bonus foto keluarga Min Woo dan Ji Sook, juga anak perempuan mereka yippie~~



Kamis, 30 Juli 2015

Review : Psycho-Pass (Anime)


            Anime yang berhasil menggugah hati gue untuk menulis kesan adalah Psycho-Pass. Harus gue akui film ini terlalu ‘jelas’ dalam menampilkan kejahatan dan komplotannya—yang mana membuat gue nggak nafsu makan juga melipat jidat selama nonton—tapi di atas semua itu, gue menemukan banyak hal menarik dalam anime kejam ini.


            Psycho-Pass mengangkat cerita dari masa depan, di mana era teknologi canggih yang serba otomatis bisa menentukan takdir seseorang hanya dengan membaca gelombang emosinya. Mereka memiliki suatu sistem yang dinamakan Sybil System. Nah, sistem ini berfungsi untuk memutuskan apakah orang tersebut baik, jahat, cerdas, bodoh, berhak untuk meraih cita-cita, atau hanya sekadar sampah masyarakat.
            Dalam satu dan lain hal, sistem ini sangat efektif. Contohnya, tindak kejahatan bisa diminimalisir dan ketertiban bisa diwujudkan secara nyata, karena ketika seseorang terdeteksi memiliki warna Psycho-Pass yang gelap, orang itu akan dimasukkan ke dalam rehabilitasi demi mencegah kejahatan yang mungkin dilakukannya. Menurut gue pribadi, dasar hukumnya sedikit mirip dengan Minority Reports, hanya saja kemasan cerita dan karakter Psycho-Pass lebih menarik dan lebih kejam.
            Di sisi lain, Sybil System ini pun memiliki banyak kekurangan juga keburukan. Sistem canggih ini mampu menghancurkan hidup seseorang dan membuatnya terasingkan dari masyarakat hanya karena sistem ini memutuskan bahwa warna Psyco-Pass orang itu gelap. Ketika orang itu mencapai angka yang melebihi batas normal Koefisien Kriminal, ia akan dilabeli dengan sebutan Kriminal Lethal dan mustahil baginya untuk kembali ke kehidupan normal. Satu-satunya pilihan yang tersisa, jika ia memiliki bakat adalah dengan menjadi Penegak di Biro Keselamatan Publik. Istilah kasarnya menjadi anjing pemburu milik polisi dan melakukan hal-hal kotor seperti mengeksekusi tersangka kriminal.


            Di tempat inilah kita berkenalan dengan Kougami Shinya, seorang mantan inspektur yang karena suatu kasus akhirnya dilabeli dengan sebutan Kriminal Laten dan menjadi Penegak. Lawannya adalah Makishima Shougo, seorang pria tampan berambut putih dengan warna Psycho-Pass yang selalu cerah meskipun ia sedang membunuh. Ya, benar, lawan Kougami adalah seseorang yang tidak tersentuh Dominator—senjata dengan kemampuan menghitung Koefisien Kriminal dan memutuskan jenis tembakan yang sesuai.


            Sejak awal film ini menyuguhkan karakter-karakter unik yang kuat dengan caranya masing-masing. Tapi di antara seluruh karakter itu, karakter favorit gue adalah Makishima Shougo, sang penjahat utama. Kenapa? Karena dia ganteng, cute, matanya melelehkan hati, pinter, tegas, dan punya pola pikir yang menarik. Gue ngerti pertanyaan-pertanyaan juga penilaian Makishima terhadap hidup. Meskipun dalam kasus berbeda, tapi gue tahu alasan dari seluruh kejahatannya itu sederhana; dia hanya ingin hidup yang normal. Dia berharap kemajuan teknologi akan berjalan seiringan dengan kemajuan sumber daya manusia. Bukan berarti caranya benar dengan melakukan pembunuhan dan sebagainya, tapi gue mengagumi pola pikirnya.


            Setelah merampungkan anime ini, gue belajar beberapa hal. Satu, kita harus punya sikap pantang menyerah bahkan meskipun hukum berlaku tidak adil. Dua, hukum itu ada bukan untuk melindungi kita, tapi kitalah yang melindungi hukum dan berjuang untuk mendapat keadilan seperti yang seharusnya. Dan tiga, hidup ini meskipun terkadang kejam, namun tetap memberi kita pilihan.
Gue akhirnya sadar bahwa seburuk apa pun pilihan yang tersedia di hidup gue, setidaknya gue masih bisa memilih. Jadi ketika gue nanti memilih, gue akan menyesal, lalu berusaha untuk membuatnya menjadi pilihan terbaik dan mensyukurinya.
            Hidup tidak akan selalu berakhir bahagia, tapi setidaknya kita bisa membuat akhir yang lebih baik.



P.S : Anime ini ada season 2-nya. Tapi karena nggak ada Kougami dan nggak ada yang ganteng juga, gue nyerah di episode 7 XD #plaaaak
Sampai ketemu di review selanjutnya~ 

Rabu, 29 Juli 2015

Review : High Society (Korean Drama)





            Hari ini gue baru aja ngeberesin satu drama, yakni High Society yang dibintangi Sung Joon dan UEE (After School). Drama ini menceritakan tentang orang beda kasta yang jatuh cinta. Yah intinya gitu~
            Download drama ini satu minggu yang lalu, iseng karena nggak ada tontonan—padahal lagi on going nonton Mask dan The Time We Were Not In Love hihihi—dan ternyataaaaa gue benar-benar mati bosan di episode dua. *sigh*
            Tapi kok bisa selesai nontonnya?
            Nah, apalagi alasannya kalau bukan karena cowoknya ganteng? #plaaak



            Jadilah, gue nonton drama ini sampai selesai. Dikebut, main skip-skip aja, karena memang yang gue tonton cuma Sung Joon-nya aja. Di sini Sung Joon berperan sebagai Choi Joon Gi, seseorang dari keluarga biasa yang jenius dan punya cita-cita untuk hidup jadi orang kaya. Jadilah dia PDKT ke UEE yang berperan sebagai Jang Yoo Na, anak chaebol, supaya nantinya bisa nikah terus ikut jadi orang kaya.



            Tapi terus ketahuan deh motifnya si Joon Gi. Yoo Na marah, mereka putus. Tapi Joon Gi udah beneran suka. Dan muter-muterlah mereka di situ sampai akhirnya balikan di episode akhir, episode 16.
            Hal lain yang bikin gue bertahan nonton ini karena jarang banget lihat pemeran utama cowoknya jahat. Okelah, nggak jahat dalam artian yang jahat banget, tapi dia bukan tipe yang bikin melting. Dan alasan lain gue suka Sung Joon juga itu, auranya seksi! #doubleplak


Menurut teman yang lain, yang nonton juga, dia suka sama pasangan sampingnya, Chang Soo dan Ji Yi. Nah kondisinya mereka berdua kebalikan Joon Gi dan Yoo Na, karena yang kaya si Chang Soo dan yang miskin si Ji Yi. Kayaknya sih, model meteor garden gitu. Nggak tahu deh, nggak nonton soalnya wkwkwk.
Maafkan review abal-abal ini. Cuma mau nulis something karena hampir 2 minggu libur nulis. *nangis di dada Sung Joon*
Sampai ketemu di review selanjutnya~

P.S : Bonus foto cute Joon Gi-Yoo Na. Entah kenapa suka banget foto mereka yang ini hihihi XD


Selasa, 28 Juli 2015

Review : Another (Anime)


          
            Anime ini mengusung tema horror berbalut kesadisan dalam setiap episode kematiannya. Dengan berlatarkan kota Yomiyama entah di bagian mana Jepang, sekelompok siswa SMP kelas 9 menyuguhkan cerita tidak biasa yang meski sederhana namun mampu memancing bulu kuduk untuk menari hip-hop.



            Anime ini dibuka dengan penuturan seorang narator yang menceritakan tentang seorang bernama Misaki yang meninggal 26 tahun lalu. Ia adalah siswa SMP di kota itu, tepatnya kelas 9-3. Ia anak yang baik, pintar dalam akademik maupun atletik, dan sangat disayangi oleh teman-temannya. Ketika ia meninggal, teman-temannya tetap bersikap seolah ia masih ada. Mereka bahkan menyediakan kursi saat upacara kelulusan. Dan tanpa disangka, Misaki benar-benar datang pada acara itu dan muncul sebagai penampakan di foto.
           Sejak saat itu dimulailah kutukan yang menimpa kelas 9-3 dari tahun ke tahun hingga sekarang. Setiap orang yang terhubung dengan kelas itu akan mati, entah dirinya sendiri atau mungkin keluarganya. Kutukan itu akan terjadi ketika jumlah siswa di kelas itu bertambah.
           Suatu hari di bulan Mei, datanglah seorang siswa pindahan dari Tokyo ke kelas 9-3, Sakakibara Kouichi. Tentu saja, setelahnya dimulai serentetan kematian tragis tanpa penyebab pasti.




          Pada episode-episode ini, kita akan disuguhkan gambar berbagai macam cara kreatif untuk kehilangan nyawa. Backsound juga ekspresi para karakternya semakin mendukung ‘kemeriahan’ prosesi kematian demi kematian dalam anime ini, mengundang penontonnya untuk mengernyit juga menyumbang tempo entakan jantung yang berlebih.
            Another mengajak kita untuk menyelami sebuah kutukan non-sense bin impossible but make you stay until you find the answer. Berisikan 12 episode dengan alur lugas tanpa terkesan terburu-buru, anime ini berhasil merebut perhatian para penontonnya untuk bersedia memahami ide cerita sederhana yang dibumbui dengan unik.



          Sayangnya, dari anime ini gue nggak menemukan chemistry yang mumpuni antara karakternya. Mungkin karena mereka masih SMP? Atau memang penulisnya hanya berfokus pada pesta darah? Intinya setelah menonton anime ini, meski gue puas karena sudah dibuat deg-degan juga geregetan, gue nggak nemuin keterikatan emosi dengan karakternya. Gue nggak nemuin satu pun karakter yang berhasil menahtakan dirinya dalam hati gue. Sangat disayangkan, karena sesungguhnya Sakakibara Kouichi itu imut tanpa tanggung-tanggung #apasih -__-
            Nah, apakah akhirnya siswa kelas 9-3 yang tersisa mampu bertahan hidup? Akankah mereka menemukan cara untuk menyelamatkan nyawa mereka dari kejeniusan sang scriptwriter yang dengan mudah menciptakan kematian dramatis? Berhasilkah mereka menguak misteri dibalik kengerian dari kutukan tersebut? Temukan jawabannya di anime Another bersama si imut Sakakibara-kun yeeeah \(^o^)/



            Satu pelajaran penting yang gue dapatkan dari film ini adalah kematian sangat dekat dengan hidup. Ketika kita menjalani hidup, entah suka atau duka, kita juga berjalan selangkah lebih dekat dengan kematian. Kematian itu pasti, nyata, dan selalu berada di sekitar kita. Menunggu waktu yang tepat untuk menunjukkan kehadirannya. So, don’t waste your time!