Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Agustus 2015

Review : Mask (Drama Korea)


Drama ini mengusung tema doppelganger, perebutan kekuasaan, juga balas dendam. Pada intinya, genrenya melodrama. Khas ahjumma #plak!
Soo Ae yang berperan ganda sebagai Byun Ji Sook dan Seo Eun Ha, dipasangkan dengan Joo Ji Hoon sebagai Choi Min Woo. 


Lalu ada Yu In Yeong yang berperan sebagai Choi Mi Yeon, kakak Min Woo, sekaligus istri dari Yeon Jong Hun yang dalam drama akan kita panggil sebagai Min Seok Hoon. Alias si tokoh antagonis dalam drama ini.


Cerita ini dimulai dengan kesepakatan pernikahan antara Eun Ha dan Min Woo. Mereka ‘nikah kontrak’ istilah gampangnya. Eun Ha supaya pilpres ayahnya sukses, sementara Min Woo supaya bisa jadi pewaris. Usut punya usut, ternyata Eun Ha ini punya affair sama Seok Hoon yang menikahi Mi Yeon (kakak Min Woo) dengan niat balas dendam pada keluarga Choi.



Namun sebelum pernikahan terjadi, Eun Ha meninggal karena tenggelam di kolam renang kediaman keluarga Choi. Tidak ada satu pun yang tahu kecuali Seok Hoon. Dan Seok Hoon yang dendamnya sudah di tahap membutakan, menolak untuk menyerah. Dia tetap menjalankan rencananya, dengan cara mencari pengganti Eun Ha.


Byeon Ji Sook adalah wanita yang pada akhirnya menggantikan Eun Ha. Dia bekerja sebagai SPG dan ayahnya terlilit hutang yang besar. Seok Hoon berhasil memaksa Ji Sook untuk menjadi sekutunya dan memalsukan kematian Ji Sook, sehingga akhirnya Ji Sook pun hidup sebagai Eun Ha.


Ji Sook menikah dengan Min Woo. Awal pernikahan yang cukup lucu sebenarnya, karena Ji Sook yang baik harus bersabar menghadapi Min Woo yang super cerewet, punya OCD, juga punya pemikiran bahwa Ji Sook hanyalah wanita mata duitan.


Tapi yaaaah namanya juga drama korea, cinta pasti tumbuh di antara dua orang berbeda kasta ini—meskipun Min Woo nggak tahu kalau Ji Sook itu sebenarnya bukan Eun Ha.


Untuk cerita lengkap, monggo ditonton langsung dramanya ^_^ hihihi dijamin bakal ikut gigit-gigit guling karena gemes.

Satu kalimat yang bikin gue bertahan di awal nonton drama ini adalah : if you wear a mask, you will never be happy. Well, is it true? ‘Cause I have to admit, I wear a mask too. And I’m happy.
Gue salah satu dari sekian banyak orang yang membenarkan quote dari Joker : give a man a mask and he’ll become his true self.

Pada akhirnya, drama ahjumma yang awalnya gue bilang nggak akan gue tonton ini jadi salah satu drama terbaik versi gue di tahun ini. Bukan cuma karena storyline-nya yang kompleks juga pemainnya yang keren, tapi gue juga suka baju-baju yang dipakai Soo Ae #blepok! Hahaha pokoknya, outfit-nya lucu-lucu ^_^

Daaaan ada di imut Hoya di sini!!! *histeris* Dia kebagian peran sebagai Byun Ji Hyuk, adiknya Ji Sook. Duh, karakternya keren. Cinta keluarga, selalu dukung kakaknya juga. Bikin baper #eh

See? Imut banget si abang satu ini! >.< 



Selalu suka scene-scene manis antara Ji Sook dan Min Woo. Khusus untuk Min Woo, dia ini tipe cowok yang gengsian hahaha lucu deh lihat interaksinya mereka. Selalu sukses bikin senyum-senyum sendiri.






Waktu Min Woo tahu Ji Sook sebenarnya buka Eun Ha, mereka berniat mau cerai. Tapi yang lucu, waktu bagian mediasi, mereka bukannya curhat soal kejelekan pasangan, malah curhat soal gimana pasangannya mereka itu sempurna buat mereka. Hihihi sweet banget!


Oh ya, soal OCD-nya Min Woo, dia itu selalu berhalusinasi setiap lihat air. Penyebabnya karena dia trauma, waktu kecil ibunya meninggal tepat di depan matanya sendiri karena berusaha menyelamatkan Min Woo yang tenggelam. Min Woo bahkan nggak suka disentuh, nggak suka tidur bareng orang lain, juga selalu mimpi buruk. Tapiiii lambat laun Ji Sook bisa menyembuhkan Min Woo. Benar ya, kekuatan cinta itu lebih dahsyat dari obat! Xixixi~


Sedangkan Seok Hoon dan Mi Yeon *sigh* gue sebel sama Seok Hoon yang tetap hidup sama kebencian juga dendamnya. Heran deh, punya istri cantik, kerjaan bagus, juga hidup mapan, ngapain lagi dia bikin huru-hara? Tapi namanya juga drama, nggak ada yang jahat nggak asyik.

Waktu selesai nonton drama ini, gue dapat inspirasi soal hidup sama dendam. Buat dibikin novel #plaaak! Hahaha okelah sekian review gaje ini. Jangan ditambahin, nanti gue dilemparin tomat XD
Sampai bertemu di review selanjutnya! ^_^

P.S : Bonus foto keluarga Min Woo dan Ji Sook, juga anak perempuan mereka yippie~~



Selasa, 27 Januari 2015

Fisika dalam Cinta

            Kau adalah jalan tanpa muara.
            Kau memberiku harap, namun tak juga genap.
      Kau mengajakku untuk menyelami setiap sudut istimewamu, lalu memaksaku mengingat kemungkinan yang jelas tak ada.
            Kau matahari yang menyinariku, tanpa sekalipun mampu kerasakan hangatnya.
            Kau dan aku.
Sesingkat kalimat itu, kau bawa asaku menuju lingkaran di mana hanya ada kau yang sanggup memberiku daya. Kau tak lelah menganugerahi kepiawaianmu dalam menyerapku, lalu melepasku. Kau adalah sang hati tanpa pasti, sebentuk nurani tanpa hakiki.
            Aku membiarkanmu terus berlari. Memutari jalan ini, meski hanya menemukan perih.
            Aku menunggumu tanpa henti. Mengharap kau mengerti, namun tak juga menuai pasti.
           Kau berada dalam dimensi tempat impianku bersemi. Dari setiap sisi, kau menawanku untuk tak beranjak pergi. Kau terasa abadi. Seperti daun-daun yang terhenti ketika angin melirih.
         Ingatkah kau ketika bumi memilih untuk memantulkanmu ke bagian yang lain sementara aku terkungkung dalam gravitasi?
          Kau tak peduli, karena bagimu aku hanya denting yang mengisi sepi. Namun, mengapa kau tak berhenti menghampiri? Tidakkah cukup segala tekanan dalam seluruh luas hatiku ini? Bahkan saat hati ini disandingkan dengan kesanggupannya, mustahil kau temukan arti. Segalanya tertutup rapat, tersimpan seiring berlalunya hari.
     Namun aku tak sanggup mengabaikanmu. Jarak ini hanya membuat waktuku untuk merindukanmu semakin sulit. Aku hanya terus bermimpi, meminta bumi untuk menarikmu kembali. Tidakkah itu suatu hal yang sia-sia? Sementara aku tahu, kita bukanlah kutub yang berlawanan. Bagaimana caraku menarikmu?
        Karena ketika aku menginginkanmu untuk rebah di tangan ini, kau telah terlingkupi sebentuk lengan lain. Lengan yang tak menjadi kepunyaanku. Lengan yang tak akan membawamu padaku.
         Kau dan aku. Aku ingin suatu hari nanti, kita akan menjadi resultan yang berlawanan arah. Agar kita mampu saling meniadakan. Sehingga jalan kita tak harus saling bertumbukan. Dan kehadiran kita tak lagi menjadi beban.


27-01-15
Setelah galau karena Kuroko no Basuke season 3
Ditemani lagu Pupus dari Dewa 19

Sabtu, 04 Oktober 2014

The Truth 'bout Reality

           Ternyata, kenyataan itu selalu lebih susah dibanding bayangan. Dan sayangnya, hal itu berlaku nyaris untuk segala hal.
            Contohnya, pekerjaan. Gue akhirnya berhasil mendapat pekerjaan di salah satu perusahaan retail di Jakarta dan hari ini adalah hari terakhir training. Semuanya standar; gaji standar dan jam kerja standar. Tapi cara kerjanya itu yang nggak biasa; capek luar biasa.
Dulu gue selalu berpikir, setelah gue bekerja, semuanya akan menjadi lebih baik. Lebih mudah. Yah sejauh ini sih gue belum membuktikan kebenarannya. Karena selain badan remuk juga batin yang teraniaya, gue belum merasa lebih baik. Apalagi lebih mudah. Tapi gue selalu berdoa, semoga hal-hal baik akan datang seiring berjalannya waktu dan pada akhirnya akan membuat hidup gue lebih baik. Toh nggak ada pekerjaan yang nggak capek, kan? Apalagi buat anak lulusan SMA biasa yang nggak punya keterampilan apa-apa. Seenggaknya, ada satu hal yang bisa gue syukuri; gue punya teman-teman baru yang meskipun annoying, tapi seru.
            Seiring berjalannya waktu, gue pun belum menemukan jurusan untuk kuliah nanti. Entah kenapa, rasanya susah kuadrat cuma untuk menentukan hal kecil itu. Padahal setiap orang pasti punya passion, kan? Terus apa masalahnya sampai gue masih terombang-ambing di tengah-tengah pilihan? Yang sebenarnya nggak bisa disebut pilihan juga, karena gue bahkan nggak pernah berani untuk sekedar mempertimbangkan pilihan itu.
            Terkadang gue nggak bisa memahami diri gue sendiri. Di saat teman-teman gue sibuk menjalani pilihan 50%-nya supaya jadi 100%, gue masih stuck di tempat. Padahal gue adalah tipe orang yang sok sibuk dan selalu yakin. Entah kenapa, makin dewasa gue justru makin pesimis. Mungkin ini penyakit hati ya? Dan gue tahu, satu-satunya obat untuk penyakit ini adalah diri gue sendiri. Karena gue nggak akan sampai di mana pun, kalau gue nggak mau bergerak.
            Gue nggak akan sukses, kalau nggak berusaha keras dari sekarang.
            Dan untuk langkah pertama, gue akan berusaha keras untuk bertahan di pekerjaan baru gue ini. Meskipun harus nyuci tempat sampah, ngosrek kamar mandi, juga jadi pemulung, setidaknya ini langkah kecil yang bisa mengawali segalanya. Siapa tahu nanti gue bisa jadi wanita karier sekaligus penulis juga punya keluarga yang happily ever after?
Selagi masih muda, bermimpilah yang tinggi. Jadi kalau jatuh nanti nggak akan terlalu jauh dari mimpinya. Amin.

Hari Lebaran Embe, 5-10-14
Setelah masuk shift 3 dan baru tidur 2 jam

Sambil dengerin lagu Need You Now versi Glee

Jumat, 29 Agustus 2014

In the Middle of Mental War

          Terkadang, manusia cenderung lebih mudah mengabaikan hidup yang sedang dijalani dibanding hidup yang akan mereka jalani. Dengan kata lain, mereka lebih mengutamakan hidup yang akan mereka jalani.
            Dan dengan sangat amat menyesal gue harus bilang bahwa gue adalah salah satu dari ‘mereka’.
            Gue sudah sering memikirkan hal ini, terutama beberapa bulan terakhir sejak kelulusan dan gue resmi menyandang status pengangguran. Dulu, gue selalu berpikir bahwa kehidupan gue setelah lulus sekolah akan menjadi lebih baik. Gue memimpikan banyak hal. Bukan sesuatu yang buruk, namun terasa amat buruk ketika mimpi itu masih berupa mimpi.
            Kini, di saat teman-teman gue sibuk mem-posting kegiatan mereka sebagai mahasiswa baru, gue hanya duduk di sudut rumah dan membaca hal itu satu persatu. Di saat teman-teman gue sibuk curhat soal perjalanan yang mereka lakukan dari kampus ke rumah dan foto bareng teman-teman baru, gue justru dalam perjalanan memutari Jakarta yang panas bin macet. Gue benci mengakui ini, tapi sering kali gue berharap bahwa gue juga ada di posisi mereka. Bisa kuliah, nggak perlu sibuk cari kerja, juga nggak perlu makan hati karena harus hidup numpang. Okay, gue mulai jadi orang yang benar-benar profesional dalam hal mengeluh.
            Gue nggak tahu apa yang harus gue harapkan, tapi satu hal yang gue tahu adalah gue harus tetap percaya bahwa hidup gue akan menjadi lebih baik. Setidaknya gue masih punya mimpi, juga prinsip yang melindungi mimpi itu. Masa lalu gue menentukan diri gue saat ini, dan gue nggak menyesali itu sedikit pun. Toh pada intinya gue masih hidup. I’m survive.
            Dan hidup selalu memberikan kesempatan kedua. Kesempatan yang disebut sebagai hari esok. Jika saat ini hidup tidak berpihak pada kita, maka yakinlah detik berikutnya hidup akan berpihak pada kita. Sejak awal hidup sudah adil. Kenapa? Karena hidup sama-sama tidak adil pada semua orang.
            Saat bikin posting ini, gue masih dalam status pengangguran. Gue sudah melamar kerja ke 3 tempat berbeda. Tempat pertama menolak karena gue pakai kacamata. Kemudian pergilah gue ke optik dan beli lensa kontak—yang menghabiskan waktu 2 jam untuk belajar pakai dan lepas. Tempat ke dua menolak karena gue nggak bersedia membiarkan ijazah gue ditahan selama gue kerja. Sedangkan tempat ke tiga mensyaratkan gue harus pakai behel, yang mana terpaksa gue tolak karena biaya pasang behel itu seharga dengan gaji gue dua bulan, terus apa untungnya gue kerja kalau begitu jadinya?
            Yah, hidup memang tidak adil. Tapi setidaknya hidup tidak adil pada semua orang.

Hari Penuh Emosi Sedunia, 29-08-14
Setelah disindir soal gigi nggak rapi

Sambil dengerin Clarity versi Sam Tsui

Sabtu, 17 Mei 2014

Review : Tokyo karya Sefryana Khairil


Judul Buku : Tokyo: Falling
Penulis : Sefryana Khairil
Penerbit: GagasMedia
Tebal : 338 Halaman
Tahun Terbit: 2013
Harga: Rp 53.000,-

Spoiler Alert!

            Di sanalah aku dan kamu bertemu, tanpa pernah membuat janji lebih dulu.
          Tokyo membawa kita menyelami dua kehidupan berbeda milik Thalia dan Tora, dua orang wartawan dari Indonesia yang dipertemukan oleh sebuah lensa di Negeri Sakura. Berawal dari insiden yang merusak lensa Thalia—dengan Tora sebagai tersangka utamanya—mereka berdua akhinya setuju untuk menjelajah juga meliput Tokyo bersama.
     Menyatukan dua orang yang asing sepenuhnya jelas bukan hal mudah. Mereka harus banyak berkompromi, saling bertoleransi, hingga akhirnya waktu mengubah setiap sisi hati. Perjalanan Thalia dan Tora yang diisi dengan canda juga tawa membuahkan sebuah rasa baru yang tak lagi asing; cinta.
Orang bilang cinta itu sederhana, meski seringnya tidak sesederhana yang kita kira.
          Thalia dan Tora memiliki cerita cinta masing-masing. Thalia dengan Dean-nya yang supersibuk namun menawarkan segala hal yang Thalia impikan, sementara Tora dengan Hana-nya yang tiba-tiba meminta putus setelah lima tahun menjalin hubungan.
         Selama kebersamaan singkat mereka di Tokyo—sepuluh hari tepatnya—Thalia dan Tora berusaha mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mereka berkenaan dengan cinta.
            Thalia adalah wanita mandiri dengan keluarga utuh. Ia mencintai fesyen dan selalu bertindak ceroboh. Itulah yang pada akhirnya membuat Tora yang selalu hidup dengan mengikuti angin tanpa ditemani keluarga lengkap, jatuh hati. Tora yang selalu tampil cuek dengan pakaian khas backpaker juga rambut yang jarang rapi, merasakan keinginan mendesak untuk melindungi Thalia. Mereka saling mengisi kekosongan dan pada akhirnya enggan beranjak pergi.
            Aku takut kita hanya pesinggah. Hati kita yang tak utuh menghadirkan rasa terbelah.
          Hari demi hari berlari, sementara hati milik Thalia dan Tora tak ingin berganti. Mereka telah menyadari bahwa ada sesuatu yang penting terjadi di antara mereka, dan setelah kerelaan Tora untuk melepas Hana, tak ada lagi hal yang nampak menghalangi. Saat itulah Dean datang. Ia menawarkan sebuah perwujudan untuk setiap mimpi Thalia; pernikahan. Dan Tora tidak menawarkan apa pun karena ia memutuskan untuk pergi.
            Aku berharap bisa menghindarimu. Namun, kau selalu ada di tempat yang aku tuju.
          Thalia yang bimbang demi mendengar lamaran Dean, akhirnya menerima pria itu. Ia memikirkan Tora, karena tentu saja cintanya telah menemukan muara. Hatinya mengukirkan nama Tora. Namun mengingat kepergian Tora, Thalia memutuskan untuk berhenti berharap.
        Pada bagian-bagian awal, saya merasa ikut terlibat langsung dalam setiap percakapan mereka. Ditemani suasana kota Tokyo yang pekat, saya terkesan dengan cara bernarasi Sefryana Khairil yang manis namun tidak melupakan unsur realistis. Tokoh Tora yang terkesan santai tapi diam-diam peduli juga membuat saya semakin betah untuk tenggelam lebih dalam di novel ini.
Namun satu hal benar-benar membuat saya kecewa adalah keputusan Tora untuk mundur. Ia memilih lari dari pada memperjuangkan Thalia. Tapi mengingat masa lalu Tora, saya bisa memahaminya. Lagi pula, bukankah itu masalah yang paling sering dijumpai di kehidupan nyata? Kepengecutan pihak pria yang menyerah untuk memperjuangkan wanitanya.
Saya tahu pada akhirnya Thalia dan Tora akan bersama. Hal yang lumrah bukan, memisahkan kedua tokoh utama lalu kembali menyatukan mereka di akhir halaman? Terlebih lagi saat Thalia memutuskan untuk membatalkan pernikahannya, saya sudah seratus persen yakin, Thalia akan bersatu dengan Tora.
Namun sekali lagi, Sefryana Khairil membuat saya tercengang dengan akhir kisah yang dipilihnya. Memang kedua tokoh utamanya dipertemukan kembali, tapi mereka masih terlilit oleh setiap kesalahpahaman juga proses menuju penerimaan. Thalia dan Tora justru berakhir dengan kepergian Thalia setelah pengungkapan cintanya, sementara Tora hanya mematung di belakangnya.
Para pembaca tidak diberi sebuah akhir yang jelas, namun penulisnya menerangkan kesungguhan Tora yang kali ini bertekad akan memperjuangkan Thalia hingga ujung dunia. Yah meskipun bisa dikatakan happy ending, saya tetap merasa akhir kisah mereka ini menggantung. Bisa saja Thalia pergi entah ke belahan bumi mana dan meninggal, kan? Jadi Tora nikahnya sama saya *dikeroyok massa*
Secara keseluruhan, Tokyo berhasil membuat saya mengobati penyakit malarindu terhadap novel Indonesia yang berkelas tanpa melupakan kesan manis yang amat romantis. Saya merasa puas telah merelakan waktu tidur saya semalam suntuk demi menamatkan novel ini. Akhir menggantung yang dituliskan juga membuat saya semakin kagum. Padahal biasanya, saya paling benci akhir menggantung. Tapi khusus untuk novel ini, saya justru merasa bisa mengatakan satu kata ini dengan lantang; sempurna.
            Satu kalimat dari Tora yang berhasil membuat saya tertegun adalah “have you ever seen something so real, so real until it makes you think that it will lasts forever?
            Karena jawabannya adalah ya. Saya pernah melihatnya, memikirkannya, merasakannya, bahkan mengantungkan harapan saya padanya *curcol*
            Dan akhirnya, saya memutuskan untuk memberi nilai 8 dari 10 untuk novel ini.
            Love can rebuild the world, they say, so everything’s possible when it comes to love (Haruki Murakami)
            Sayonaraaa~


Sabtu, 26 April 2014

For Somebody Out There

Mencintaimu tak pernah mudah bagiku.
Namun aku tetap teguh, tak kubiarkan jiwaku disesap ragu. Aku melihatmu sebagai seseorang yang sudah selayaknya berada di hidupku. Seluruh risiko itu sepadan untuk memperjuangkanmu. Membawamu dalam hidupku. Kamu bukan pilihanku, namun hati ini memilihmu.
Entah sejak kapan, kamu menjadi pusat semestaku. Kamu menjadi bagian permanen dalam hidupku, membuatku tak lelah menyambut hari karena kutahu akan melihatmu. Kamu datang dengan luka yang tak kusangka mampu menghapus dukaku. Aku tak lagi rapuh, karena aku mengharapmu untuk bersandar padaku. Membagi harimu bersamaku.
Namun aku hanya sanggup menatap punggungmu, memuja bayangmu. Bersama jiwa yang merindu, berselimut angan penuh ragu. Hanya melihatmu ketika kamu berlalu, sungguh hanya mampu membisikkan namamu dalam kalbu.
Kamu berdiri bagaikan matahari abadi yang mengiris hati. Begitu nyata, namun tak kan pernah termiliki. Kamu menerima seluruh cela hingga mendekapnya menjadi sempurna. Kamu membuatku melihat sesuatu yang tak kuduga akan mengubahku.
Ya, itulah dirimu. Yang kuberi hatiku, bahkan tanpa perlu kamu tahu.
Lambat-laun, seiring berlarinya waktu, kamu menghampiriku. Kamu membagi senyum juga tawamu. Kamu menceritakan mimpi-mimpimu. Membuatku selalu bersyukur, karena aku tak lagi harus bersembunyi dalam bayang-bayang hanya untuk melihatmu. Kamu ada dan menjadi nyata dalam hidupku.
Dan aku tersadar, aku tak hanya memberimu hatiku. Aku telah merelakan seluruh rasaku. Jika ada satu kata yang mampu menggambarkannya, biarlah satu kata itu menjadi pengingatku tentang dirimu.
            Kamu dan aku selayaknya angin yang meniup daun. Hanya membiarkan cinta berlalu, berdiam diri sementara hati membeku. Tak tahukah kamu bahwa waktu tak mungkin kembali padamu? Waktu hanya merenggut, lalu menghilang dibalik serpihan abu.
            Kamu dan aku tak kan pernah menemukan muara. Setiap langkah yang kita lalui hanya membawa perih ini pada jalan yang sepi. Jalan yang tak menyatukan kita di akhir nanti. Jalan yang terus berputar, memaksa kita berdiri tegak dengan hati tak terselamatkan.
            Hari demi hari yang berlari hanya memberi satu kenyataan pasti; kamu dan aku tidak akan berada dalam satu kata memiliki.
            Mencintaimu sungguh tak mudah bagiku. Namun sekalipun aku harus terjatuh dan menunggu, aku akan tetap mencintaimu.

Sabtu, 26-04-14
Coretan hati selama Ujian Nasional
Based on true story


Jumat, 07 Maret 2014

XII IPA 2 : Ketika Jam Pelajaran Kosong

            Here we go again with XII IPA 2! *tepuk tangan*
            Gue kembali membuat posting—yang meskipun telat—bertajuk XII IPA 2. Entah mengapa, tidak ada satu pun hal biasa yang mereka lakukan. Karena menurut gue dan mungkin seluruh makhluk astral yang bisa lihat tingkah polah kelas ini, XII IPA 2 itu keren, kocak, koplak, katro, bahkan kalem! Semua jadi satu dengan kesadaran yang membuahkan rasa luar biasa.
Gue bersyukur telah dikenalkan pada mereka, segenap makhluk-mahkluk tidak jelas yang selalu membawa tawa, dan dengan bangga gue menyebut diri gue sebagai bagian dari XII IPA 2. Setiap hari, menit, bahkan nano detik, XII IPA 2 selalu memberikan kesan mendalam yang terasa unik untuk diulik.
Contohnya kemarin, saat pelajaran ke dua yakni bahasa Inggris yang dijadwalkan untuk ujian praktek debat, kami berakhir dengan saling curhat juga berfoto ria. Ada kelompok yang sibuk ngerumpi—Aul biasa bilang mereka genk oom-oom rumpi—dan ada juga yang heboh ngegembel di koridor depan kelas.
           Yeah, here we go with some photos. Enjoy it, guys J

Arum dkk berlatar daun kering andalan kelas XII IPA 2 

 Ini dia genk oom-oom rumpi tapi terhalangi sabetan gagang sapu dari Bara

 Ini dia biang keroknya a.k.a Bara bersama duo Riska, Gulardi, & Khoolish

Tim gembel ria di koridor depan kelas

 Ditambah Faqih sang juru printer dan Risma si calon pilot

 Keisengan Bara dan Faqih diiringi kejahilan Deden di taman cinta

 Ini dia pasangan paling yahud versi majalah yang terancam bangkrut :p

Girl Band ala XII IPA 2 dengan penampakan makhluk kasar di belakang~

         NB : Buat Nurdin, get well soon ya. Kita semua nunggu lo. Kita masuk sekolah, bahkan masuk kelas XII IPA 2 di pertengahan 2013 kemarin bareng lo, jadi kita harus lulus bareng juga ya. Lo lebih kuat dari yang lo pikir dan setiap orang berhak mendapat kesempatan untuk menjadi lebih baik, termasuk lo. Semangat, Nurdin! \(^o^)/

Hari Toko Banyak Libur, 7-3-14
Setelah gereget lawan tugas perspektif

Sambil dengerin lagu No Air dari Jordin Sparks

Kamis, 13 Februari 2014

Talk About Romeo and Juliet (2013)


            Film ini adalah adaptasi dari kisah terkenal karya Shakespeare yang sepertinya tidak akan lekang oleh waktu. Dari informasi yang disediakan oleh Mas Google, gue tahu sudah ada beberapa versi film dari tahun-tahun sebelumnya. Tapi sejauh gue hidup, baru dua versi yang gue tonton yakni tahun 1997 dan 2013.
            Dalam posting kali ini gue akan membahas tentang versi 2013 karena jujur saja, versi 1997 sungguh tidak memuaskan dan melenceng jauh dari ekspektasi gue, meskipun Leonardo Di Caprio tampil dalam ketampanan yang keluar dari batas kesopanan. Sebenarnya gue pun tidak tahu bagaimana seharusnya bereskpektasi terhadap karya ini, karena gue hanya tahu sebatas plot ceritanya.
          Seperti yang diketahui seluruh makhluk hidup dengan kemampuan berpikir normal di Bumi tercinta ini, Romeo and Juliet menceritakan kisah cinta penuh tragedi, yang gue pikir sangat tragis alih-alih romantis. Keluarga Montague dan Capulet telah bersiteru sejak hanya-Shakespeare-yang-tahu dan film ini dibuka dengan ketegangan antara keluarga Montague dan Capulet yang berlomba untuk mendapatkan suatu barang berbentuk bulat dalam turnamen resmi milik kerajaan. Perlombaan dimenangkan oleh Mercutio, sahabat Romeo.
Setelah itu gambar beralih pada orang-orang Montague dan Capulet yang mengeluarkan pedang masing-masing di sebuah tempat umum dan mulai menebas musuh di depan, meski gue hanya mengerti sampai pada tahap bahwa mereka ini adalah manusia-manusia yang mengulur waktu kemunculan dari para pemeran utama. Yah intinya, setelah acara ayun mengayun pedang, mereka diperingatkan oleh sang Pangeran bahwa mereka akan dihukum bila kembali bertikai di jalan umum kerajaan itu.
Romeo Montague—diperankan oleh Douglas Booth—tengah dilanda galau karena memikirkan Rosaline dari keluaga Capulet, sedang memahat patung ketika Benvolio datang dan mengabarkan berita itu. Namun Romeo yang dimabuk cinta tidak mau peduli dan justru datang ke pesta topeng keluarga Capulet. Di sana ia melihat Juliet Capulet—diperankan oleh Hailee Stainfeld—lalu memutuskan bahwa hatinya langsung mencintai Juliet pada pandangan pertama dan mereka berdansa. Sisa cerita cintanya mungkin sama dengan yang lain, mereka kembali bertemu di balkon, saling menyatakan cinta, lalu memutuskan untuk menikah secepatnya.

Kembali ke pesta sebelumnya. Tybalt, sepupu Juliet, murka melihat dansa antara Romeo dan Juliet, dan harus ditahan oleh ayah Juliet agar tidak memporak-porandakan pesta itu. Detik itu juga gue memutuskan bahwa Tybalt ini biang masalah yang benar-benar buta karena tidak bisa melihat bahwa Romeo dan Juliet hanya dua anak manusia yang jatuh cinta pada waktu yang salah. Tybalt mengirim surat tantangan untuk Romeo, namun Romeo yang baru saja menikahi Juliet tidak menggubris Tybalt. Justru sahabat Romeo yang tidak kalah barbarnya dari Tybalt menjawab tantangan itu dan meninggal dalam prosesnya. Akhirnya Romeo pun terpancing, ia membalaskan dendam Mercutio dan menodai tangannya dengan darah Tybalt.

Romeo dihukum oleh Pangeran dalam bentuk pengasingan. Ia tidak boleh kembali lagi ke kerajaan itu dan menurut Romeo hal itu jauh lebih buruk, karena ia akan dikalahkan oleh lalat yang bisa melihat Juliet setiap hari. Lalu Romeo datang pada Juliet dan mereka yah seharusnya melakukan bed scene namun yang gue dapat dari versi 2013 ini hanya sebatas dada telanjang Douglas Booth, karena mereka tidur dengan baju yang hampir lengkap.
Mungkin bagi orang di luar sana hal ini mengecewakan, gue juga sempat merasa sedikit begitu (plak!) tapi gue lega karena film ini bisa dikatakan cukup aman. Karena entah berapa banyak piring dan gelas yang akan gue banting kalau meliat Douglas Booth tampil sevulgar itu dengan memeluk gadis lain (okay, gue salah fokus).

Setelah melepas kepergian Romeo, Juliet dipaksa orang tuanya untuk menikahi Paris. Dari pada mengkhianati Romeo, Juliet lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya. Beruntung (atau justru sial) Friar Laurence mengusulkan untuk memalsukan kematian Juliet dengan ramuan yang hanya mematikan Juliet sementara, lalu Juliet bisa hidup bahagia selamanya dengan Romeo entah di mana. Namun pengantar surat yang luar biasa menyebalkan itu justru terjebak membantu orang lain di perjalanan, sehingga Romeo tidak pernah menerima surat berisi rencana Friar Laurence. Benvolio datang terlebih dahulu dan mengabarkan kematian Juliet.
Romeo pun kembali ke kampung halamannya untuk menemui tubuh tak bernyawa Juliet dan membunuh Paris dalam prosesnya. Ia bunuh diri dengan racun di samping Juliet tepat saat Juliet sadar dan akhirnya Juliet pun memutuskan untuk membunuh dirinya juga. Keluarga Montague dan Capulet berdamai setelah itu, yang mana akhirnya membuat gue menangis kesal karena mereka berdamai setelah Romeo dan Juliet menjadi mayat.

Secara keseluruhan, versi 2013 ini berlatar dengan cukup kuno dan gue menyukainya. Meskipun gue tidak menyukai satu pun gaun yang dikenakan Juliet, setidaknya gue menemukan nilai tambah dalam tatanan rambutnya yang unik. Untuk Romeo sendiri, gue benar-benar harus gigit bantal ketika ia memutuskan untuk tersenyum. Mungkin ketampanan Douglas Booth tidak akan bisa menandingin Leonardo Di Caprio dalam versi 1997, namun gue merasa ia sudah ‘pas’ dalam memerankan tokoh Romeo. Gue suka mendengar suaranya, juga melihat tatapan matanya. Gue bahkan suka ketika ia menaikkan sebelah alisnya. Entah seperti apa penampilannya di luar film ini, yang jelas gue suka Douglas Booth as Romeo Montague!
Satu pelajaran penting yang gue dapatkan dari film ini adalah kebencian hanya membawa masa depan tanpa harapan bagi yang merasakannya juga orang-orang di sekitarnya. Gue melihat bukan kebodohan, namun kebencian keluarga Montague dan Capulet yang telah membunuh Romeo dan Juliet. Seandainya mereka bersedia mendengar, lalu mencoba mengerti, mungkin Romeo dan Juliet bisa hidup bahagia dengan segala cinta mereka itu. Tapi kalau ceritanya berubah begitu bukan Romeo dan Juliet lagi ya -_-
Semoga saja di luar sana, nggak ada lagi keluarga yang menyimpan kebencian aneh semacam ini. Juga semoga saja nggak ada lagi Romeo dan Juliet masa kini, karena kalau sampai ada dan mereka memutuskan untuk bunuh diri, maka tanpa ragu gue akan mengatakan mereka bodoh bin idiot. Kenapa? Karena hare gene teknologi sudah menjadi makanan sehari-hari, jadi nggak ada alasan untuk memilih jalan mudah seperti bunuh diri. Masih ada ribuan atau bahkan milyaran cara lain yang bisa mereka pilih untuk membuat cerita baru, juga akhir cerita yang lebih baik.

Hari Pakai Batik, 13-2-14
Setelah tidur empat jam dan 
dipaksa Mba Ningrum bikin postingan film ini
Ditemani lagu Goodbye dari Hyorin


Sabtu, 25 Januari 2014

Foodscape ala Fantastic Four

             Fantastic Four adalah sebuah tim dadakan yang tercipta setelah gue—Nurisya Febrianti—bertemu dengan Aulia Khoirunnisa, Moudy Karina, dan Riska Amelia di kelas XII IPA 2. Berawal dari posisi duduk kami yang tepat satu baris, akhirnya lahirlah Fantastic Four yang selalu memiliki ide juga semangat aneh dalam hal berkerja sama.
Tim ini sangat diandalkan dalam mata pelajaran Fisika di mana Aul dan Riska yang menjadi pelopor penjamin nilai, gue yang selalu menyumbangkan doa sambil tidur, dan Moudy yang dengan sabar selalu jadi juru tulis handal.
            Hari ini, kami melangkahkan kaki dalam dunia yang sama sekali berbeda dari itu. Kami membuat sebuah karya seni rupa, untuk Ujian Praktek Seni, bertemakan foodscape. Sekadar informasi, foodscape adalah sebuah karya seni berupa miniatur dari alam yang dibentuk dari kumpulan makanan segar dan berkualitas. Intinya, segala sesuatu yang ada pada papan kami adalah makanan.
            Dimulai dari kesibukan kami untuk menentukan bahan, lalu keraguan kami karena sama sekali belum pernah membuat itu, dan diakhiri dengan kenekatan kami yang langsung mengerjakan foodscape itu tanpa pernah berlatih sekali pun. Dan hasilnya, tak disangka-sangka, sangat sempurna.
            Kenapa gue mengatakan bahwa hasilnya sempurna? Apa karena foodscapenya benar-benar terlihat nyata dan lebih bagus dari gambar google?
            Tidak. Sama sekali bukan itu.
        Gue mengatakan hasilnya sempurna karena segala hal yang gue rasakan bersama Fantastic Four selama pembuatan karya ini. Gue merasa senang, nyaman, bersemangat, dan sangat menikmati prosesnya. Kami sering tertawa, diselingi dengan kunyahan makanan, juga tetap kompak ketika stuck. Kami saling bahu-membahu, pantang menyerah, namun tidak lupa untuk tetap bersenang-senang.
         Gue benar-benar bersyukur karena Allah SWT mempertemukan gue dengan mereka, dan mengizinkan gue untuk bekerja sama bersama mereka. Karya kami memang tidak sempurna, namun kebersamaan dan kerja sama kamilah yang sempurna. Dan di atas segalanya, gue bangga bisa menyelesaikan Ujian Praktek Seni terakhir di SMA ini bersama mereka.
            Yeah, we are Fantastic Four!
Foodscape bertemakan entah pertanian atau perkebunan

Salam Fantastic Four~


Hari Menjelang Libur Nasional, 25-01-14
Setelah tidur sore selama empat jam
Ditemani soundtrack dari Meteor Garden


Selasa, 21 Januari 2014

Peraturan yang Tidak Tercantum dalam Peraturan, Haruskah Ditaati?

            Dalam posting kali ini gue ingin menyuarakan pertanyaan dalam pikiran gue, dengan menitikberatkan pada persoalan yang sudah terjadi berulang kali dan dilakukan secara turun-temurun di sekolah gue yaitu larangan untuk pulang terlebih dahulu. Ada beberapa siswa, sebut saja kelompok A, yang selalu memblokade pintu gerbang dan memerintahkan siswa lainnya untuk berkumpul di aula sekolah demi kepentingan mereka yang sesungguhnya tidak termasuk dalam peraturan mana pun di sekolah.
            Jujur saja, hal ini membuat gue merasa keberatan dan sangat terganggu.
            Gue tidak mengatakan bahwa mereka salah, gue hanya ingin mengatakan bahwa kami memiliki pola pikir dan prioritas yang berbeda. Setiap manusia pasti berbeda, namun tetap mampu bekerja sama jika dilandasi kerelaan dan ketulusan. Lalu ketika seseorang tidak bersedia untuk bekerja sama, dikarenakan satu dan lain hal, haruskah pihak lainnya itu memaksa? Jika memang memaksa telah dihalalkan dalam kasus ini, untuk apa lagi ada HAM di dunia? Terlebih lagi, apakah pantas seseorang memaksakan kehendak terhadap orang lain di era kemerdekaan berbalut demokrasi ini?
            Gue tahu alasan yang menjadi latar belakang kelompok A mengumpulkan siswa-siswa adalah alasan yang penuh solidaritas dan menjunjung tinggi nilai sosial. Mereka memiliki keinginan untuk ikut berjuang bersama demi mengharumkan nama sekolah. Mereka berkorban demi kepentingan bersama. Namun haruskah mereka melakukan pemaksaan terhadap individu?
            Untuk gue khususnya, gue tidak bisa mengikuti keinginan mereka karena kondisi kehidupan gue yang tidak memungkinkan. Gue memiliki prioritas lain, yang menurut diri gue, jauh lebih berharga dari pada berkumpul di aula sekolah untuk menghapalkan beberapa lagu. Gue memiliki tanggung jawab untuk membalas kebaikan orang-orang yang telah menanggung hidup gue. Jika mereka memang salah satu dari orang itu, maka dengan senang hati gue akan mengikuti keinginan mereka tersebut. Tapi mereka bukan salah satu dari orang yang menanggung hidup gue. Mereka tidak memberi gue uang untuk makan atau biaya sekolah, tidak pula membantu gue untuk masuk ke PTN yang gue tuju.
            Tentu saja, tidak semua hal bisa dinilai dengan uang, gue pun tidak bermaksud menyinggung mereka dalam penyuaraan pikiran gue ini, namun gue hanya ingin memberikan satu contoh yang lebih mudah untuk dipahami.
            Sebenarnya, apa tujuan utama kita untuk pergi ke sekolah? Demi menuntut ilmu, bukan? Tidak untuk mencari teman apalagi bergantung dan menomorsatukan teman. Teman adalah sesuatu yang berharga, namun tetap hanya sebatas untuk menjadi seseorang yang kita kenal dan temui di sekolah.
            Alasan yang melatarbelakangi gue untuk menulis ini adalah karena gue merasa tidak memiliki kewajiban untuk melakukan hal lain diluar peraturan sekolah yang telah gue tanda-tangani. Pasalnya, dalam peraturan sebanyak kira-kira setengah lusin kertas HVS itu, tidak tercantumkan keharusan gue untuk ikut berkumpul di aula sekolah menjadi suporter dalam pertandingan atau perlombaan apa pun. Inilah yang membuat gue berani untuk mengungkapkan pikiran, karena gue merasa berhak untuk memilih pulang dibanding dengan berkumpul di aula.  
            Persoalan ini hanyalah kasus sederhana yang seharusnya tidak perlu diperdebatkan, apalagi di detik-detik terakhir menjelang Ujian Nasional. Pada intinya kami hanya memiliki prioritas berbeda dan kami tidak mau mengalah. Kelompok A ingin agar gue tetap di sekolah untuk mendukung agenda kegiatan mereka, sementara gue ingin pulang untuk belajar dan beristirahat. Sungguh sederhana, bukan?
Hal semacam ini seharusnya tidak lagi menjadi permasalahan orang-orang yang telah memiliki Kartu Tanda Penduduk yang mana menunjukkan kedewasaan. Namun sekali lagi, teori bahwa kedewasaan tidak ditentukan oleh umur terbukti benar. Karena kami, orang-orang yang telah berusia tujuh belas tahun atau lebih ini tetap tidak bisa menghargai pendapat masing-masing dan saling memaksakan kehendak.
            Gue hanya bisa berharap bahwa kedepannya mereka akan lebih memahami makna sesungguhnya dari Hak Asasi Manusia dan prioritas individual, agar kami tidak perlu lagi berselisih paham dan saling mengejek di depan gerbang. Gue juga mendoakan agar kegiatan apa pun yang mereka lakukan akan berjalan lancar dan membawa berkah juga kebaikan untuk bersama. Amin.
            Memang benar manusia yang mengetahui keinginannya lalu memperjuangkannya adalah manusia yang berharga, namun manusia akan menjadi lebih berharga ketika tahu bagaimana caranya untuk menghormati hak dan pilihan manusia lainnya.

Hari Terakhir Try Out Ke-III, 22-01-14
Setelah sampai dengan selamat di kamar
Ditemani lagu Playing God dari Paramore

Kamis, 19 Desember 2013

Pilihan untuk Pilihan

Pilihan. Satu kata sedehana yang menentukan takdir kehidupan dalam berbagai bidang. Bukan hanya untuk manusia, tapi juga seluruh hal yang eksis di dunia. Pernahkah kalian membayangkannya? Pilihan yang kita buat, akan mempengaruhi orang lain. Pun begitu sebaliknya. Dan seperti segala hal di dunia ini, di mana ada aksi pasti ada reaksi. Sama seperti dengan adanya sebab maka muncul akibat.
            Pembicaraan mengenai pilihan tak memiliki awalan ataupun akhiran. Pilihan yang kita pilih detik ini, akan membawa kita pada pilihan berikutnya. Maka dapat disimpulkan bahwa kalimat “hidup ini pilihan” adalah benar adanya, meski tidak sungguh-sungguh tepat, setidaknya kalimat itu sudah mencangkup banyak definisi dari pilihan.
            Inti dari postingan gue kali ini adalah tentang pilihan ketika kita bertemu seseorang. Yeah, gue sedang dalam mood cloudy, yang kalau ditiup angin sedikit saja langsung menyemburkan hujan. Dan rangkaian paragraf ini adalah buah pemikiran dari kegalauan gue.
            Ketika kita bertemu seseorang, kita mendapat tiga pilihan.
            Pertama, kita dapat mengabaikannya.
            Kedua, kita dapat melihatnya lalu melupakannya.
            Ketiga, kita dapat bertaut padanya. Memberikan perhatian kita, membiarkan kita mengenalnya, hingga sampai pada kesimpulan untuk menyukainya atau tidak.
            Dan gue sudah pernah memilih ketiga pilihan tersebut. Semuanya memiliki risiko yang sepadan, hanya tinggal tergantung bagaimana kita memandangnya. Untuk pilihan pertama, risikonya adalah kita bisa kehilangan satu kesempatan untuk mendapatkan kebahagiaan. Mungkin saja orang yang kita abaikan di dalam angkutan umum, di jalan, atau bahkan di warung—tanpa kita lihat sedikit pun—sebenarnya dapat membawa kebaikan dalam hidup kita.
            Sementara untuk pilihan kedua, kita sudah berani melihatnya, namun kita memilih untuk mengabaikan pada akhirnya. Kenapa? Ada banyak jawaban. Risikonya? Kita bisa menyesal, karena kita sudah melewatkan kesempatan baik atau justru bersyukur karena sudah melewatkan kesempatan buruk. Sekali lagi, tergantung bagaimana kita memandangnya.
            Dan untuk pilihan ketiga, kita sudah melakukan hal besar. Kita memberi kesempatan. Bukan hanya kesempatan untuk mendapat kebaikan, tapi juga keburukan. Misalnya, kita memberi kesempatan pada diri kita untuk mengenal seseorang. Lalu kita memutuskan bahwa kita menyukai orang tersebut. Nah, hanya ada dua kemungkinan dari pilihan itu. Kita akan berakhir bahagia karena orang itu tidak menyia-nyiakan kita atau kita akan berakhir dengan rasa sakit karena orang itu tidak sesuai harapan kita ketika memilihnya.
            Pada dasarnya tidak adalah pilihan baik ataupun buruk. Pilihan hanya menyediakan kemungkinan. Kita yang membuatnya baik dan buruk, karena proses yang kita lalui setelah memilih yang menentukan akhir dari pilihan awal.
            Banyak orang memilih untuk menyalahkan pilihan awal ketika risiko datang menimpa. Padahal mungkin saja kitalah yang melakukan kesalahan dalam prosesnya. Kesulitan utama yang dihadapi manusia ketika memilih adalah tetap berada secara konsisten di jalan pilihannya.
            Karena itu, mungkin hal terbaik yang bisa kita lakukan untuk menyikapi segala pilihan itu adalah dengan memilih pilihan yang hati kita yakini. Bukan pilihan mana yang lebih baik, karena mungkin saja pilihan yang lebih baik itu sebenarnya kurang baik untuk kita.
Dan satu hal yang gue pegang teguh saat menjalani pilihan adalah gue harus memanfaatkan segala peluang dan memaafkan seluruh risikonya. Hanya dengan itu gue nggak akan berkubang dalam penyesalan, dalam bentuk apa pun.

Hari Kamis yang Mendung, 19-12-13
Dag-dig-dug menunggu rapor

Sambil repeat lagu Words dari Skylar Grey


Rabu, 13 November 2013

XII IPA 2 : Ketika Belajar Pkn

Hari ini gue belajar sesuatu yang cukup penting bersama Aul, di bangku paling belakang yang biasanya menjadi singgasana Marsekal dan Khoolish. Bahwa sebenarnya, setiap orang memiliki nilai plus dan minus yang membuatnya berarti bagi orang lain. Juga bahwa sesungguhnya, setiap orang itu baik. Hanya saja ada beberapa hal buruk yang ia lakukan dan membuatnya dikenal seperti itu, meski pada dasarnya ia tetap melakukan hal baik.
            Nah, bicara mengenai beberapa hal buruk, hari ini XII IPA 2 kembali melakukan rutinitasnya saat pelajaran PKn berlangsung, yaitu tidur berjamaah. Gue juga melakukannya, sementara Aul mendengarkan musik melalui my beloved headset, dan beberapa anak lainnya mengobrol dengan riang tanpa memerhatikan guru di depan.
Jika dilihat dari sudut pandang guru atau orang dewasa, hal yang kami lakukan jelas merupakan contoh sikap yang amat buruk. Secara tidak langsung, kami tidak menghargai dan tidak menghormati guru kami. Namun jika dilihat dari sudut pandang kami, layaknya remaja normal, hal itu hanya satu di antara segelintir hal konyol yang kami lakukan tanpa maksud jahat. Yah karena pada dasarnya, dewasa ini, setiap anak lebih suka melakukan hal yang akan membangkitkan rasa penasaran, bukan hanya mendengarkan penjelasan.
Melalui posting ini, gue dan segenap rakyat XII IPA 2 memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada guru PKn kami yang “berbudi luhur-berwawasan luas-baik hati-tidak sombong-selalu sabar”. Sebenarnya kami menghargai dan menghormati Anda, Pak. Kami bahkan sangat bersyukur karena diajar oleh Bapak. Hanya saja kami ini—para remaja yang rentan galau—tetap melakukan beberapa hal yang tidak seharusnya dilakukan, dan berhubung Bapak orang yang “berbudi luhur-berwawasan luas-baik hati-tidak sombong-selalu sabar” kami mohon maafkan kami. Semoga di masa yang akan datang Bapak bisa mendapat murid yang lebih baik dari kami. Salam PKn!
Untuk seluruh penghuni XII IPA 2, gue sama sekali tidak menyesal sudah mengikuti kalian untuk berbuat hal-hal konyol seperti itu, karena gue tahu dua puluh tahun dari sekarang gue akan tersenyum saat mengenangnya.
Okay, here we go with unbelieveble moment! Enjoy it, guys! J

Hari Pulang Cepet, 13-11-13
Setelah main flow karena nggak sanggup ngerjain Fisika

Dan diiringi lagu It Will Rain versi Boyce Avenue

 Tim ngobrol bareng a.k.a Konfrensi Meja Kotak hehehe

 Grup Arif yang lagi presentasi dan Gulardi yang lagi baca~

and the best student in the world goes to them! hahaha
di ujung ada Widyo, terus Bara, dan terakhir Lubna yang tidurnya elegan~ peace yak!

dan ini dia duo iseng yang sibuk paparazzi meskipun kameranya cacat hoho

Senin, 11 November 2013

Keep Looking Up

Hari ini gue menyadari satu poin penting dalam keluarga yang selama ini luput dari perhatian gue. Bahwa hubungan antara orangtua dan anak yang tidak harmonis dapat menjadi penyebab utama penyakit hati. Kalian tahu apa yang gue maksud dengan penyakit hati? Yaitu perasaan dimana sang anak merasa sendiri, tidak berdaya untuk memilih, dan pada akhirnya membiarkan dirinya terkubur bersama bayang ekspektasi dan asumsi.
            Satu waktu dalam hidup gue, ada kalanya gue membiarkan diri gue berkubang dalam penyakit itu. Namun seiring berjalannya waktu, gue mencoba untuk mencari obat, yaitu dengan cara menghilangkan rasa peduli. Menghapus empati. Karena ketika kita memedulikan seseorang atau sesuatu begitu rupa, kita akan merasakan sakit yang teramat sangat dalam prosesnya.
            Jadi, gue memutuskan untuk bersikap tidak peduli. Gue mengabaikan setiap kejadian buruk supaya gue nggak merasakan sakit semacam itu lagi. Gue bahkan tidak berusaha untuk memperbaiki, gue hanya terus menghindar dan lari. Selama beberapa saat hal itu bisa sangat efektif; gue bisa sekolah, belajar, dan bergaul seperti biasa.
            Tapi hari ini mengubah segala pemikiran gue itu.
            Hari ini ada satu masalah yang terjadi dengan melibatkan orangtua dan adik gue, lalu pada akhirnya menyadarkan gue bahwa selama ini obat yang gue pakai itu hanya membawa efek yang lebih buruk lagi. Gue bersikap tidak peduli, tanpa sadar bahwa hal itu menyakiti orang-orang yang gue cintai. Tanpa sadar gue membuat orang-orang itu harus berjuang sendiri.
            Gue menyesal sudah bersikap seperti itu. Benar-benar menyesal. Kenapa gue nggak lebih kuat? Kenapa gue nggak lebih bijak? Dan ada jutaan pertanyaan kenapa lainnya yang mengikuti. Tapi pada akhirnya, yang harus gue lakukan bukan bertanya-tanya. Gue harus mengubahnya.
            Gue berharap setelah kejadian ini—yang belum gue tahu bagaimana cara menyelesaikannya—gue akan menjadi lebih baik, lebih kuat, dan lebih bijak untuk orang-orang yang gue cintai itu.
            Mungkin gue akan terjatuh-terluka-terkubur dalam prosesnya, namun gue tidak bisa berhenti berusaha. Karena mereka, orang-orang yang gue cintai itu, membutuhkan gue. Sama seperti gue membutuhkan mereka. Dan gue tidak bisa selamanya hanya membiarkan mereka berjuang sendiri. Gue juga harus berjuang bersama mereka.
            Untuk hidup yang lebih baik, dengan kebahagiaan sederhana yang melingkupi.

Hari Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih, 11-11-13

Setelah dengar Sena nangis dan galau mikirin Biologi

Jumat, 08 November 2013

XII IPA 2 : Goes to Suka Mantri

4 November 2013 adalah salah satu hari paling berkesan sepanjang 16 tahun 9 bulan 3 hari hidup gue. Tanpa sedikit pun prasangka apalagi bayangan, gue pergi ke Suka Mantri bersama seluruh warga XII-IPA 2 untuk pengambilan foto buku tahunan. Tapi di sini gue nggak akan membahas tentang acara fotonya, karena gue mau membahas tentang rasa kekeluargaan yang tumbuh di antara siswa/siswi XII-IPA 2.
            Dimulai ketika kami berkumpul di depan hall untuk berangkat ke Suka Mantri. Setelah menunggu selama kira-kira empat puluh menit, kami semua akhirnya berkumpul. Tanpa diduga, Bara memutuskan untuk mengikuti lomba Sport 7 yang sedang berlangsung di hall yaitu stand up comedy. Meski kami terburu-buru dan dibayangi ketakutan akan kehujanan di jalan, kami tetap mendukung Bara dan tertawa pada jokes-nya yang terpusat pada pacar barunya.
            Kami berangkat dari sekolah sekitar pukul 4 sore dengan menggunakan dua mobil dan puluhan motor. Setelah mendaki gunung, melewati lembah, dan mengarungi ciliwung, kami sampai di sana ketika matahari tergelincir-terpeleset-tersoledad memasuki peraduannya.
            Jujur saja, jalan menanjak dan memutar untuk mencapai Suka Mantri sangat amat ekstrem. Gue sama sekali tidak pernah membayangkan akan melalui jalan seperti itu, terlebih ketika kabut menyelimuti dan hanya dengan beberapa orang tersisa. Rombongan kecil yang mendaki bersama gue adalah Ilham, Gulardi, Arif, Widyo, Khoolish, Aruum, Anneke, Riska Comeh dan sugar glider milik Widyo.
            Jalan berbatu-batu diiringi gerimis yang menitik membuat tingkat kesulitan semakin tinggi. Apalagi dengan adanya jurang-jurang di kedua sisi jalan dan tidak adanya lampu, kami semua begitu tegang. Gue yakin, para cowok yang membonceng cewek pasti merasa takut setengah hidup karena mereka tidak hanya mempertaruhkan nyawa mereka sendiri. Sekali mereka kehilangan keseimbangan, maka hanya Allah SWT yang tahu bagaimana kelanjutannya.
            Untungnya, Allah SWT masih melindungi kami. Dengan tubuh yang lelah dan jantung nyaris keluar dari rusuk, kami semua sampai di Suka Mantri. Udaranya dingin menggigit dan pemandangannya sangat indah. Di salah satu warung bermandikan cahaya dari lentera, kami menghabiskan petang dengan saling membagi makanan.
            Kemudian masalah sesungguhnya muncul. Kami terlalu lama berada di atas dan nyaris kehabisan waktu untuk turun ke bawah. Risikonya terlalu tinggi karena jalan bertebing curam tanpa penerangan jalan, ditambah kenyataan bahwa hujan mengguyur dengan sempurna. Akhirnya kami mengambil keputusan untuk segera turun dan saling memercayai satu sama lain. Kami bekerja sama untuk saling menjaga dan menguatkan selama proses turun berlangsung.
Setelah kami semua turun dengan selamat, gue mulai berpikir ulang tentang segala hal yang terjadi, dan memutuskan untuk menulis bagian-bagian terbaik dari perjalanan nekat kami.
            Kami menemukan kepercayaan, kerja sama, dan cinta untuk sesama saudara—meski di antaranya ada yang cinlok juga loh :p hehehe—di tempat bernama Suka Mantri. Ketika jiwa menjadi taruhannya, kami semua berhasil menyatukan setiap keping kepribadian demi keselamatan bersama.
            Gue rasa nggak ada satu pun kata yang pada akhirnya sanggup menggambarkan perasaan gue dan seluruh warga XII-IPA 2 ketika kami pulang dari tempat itu. Namun satu hal yang nampak jelas adalah kami semakin menghargai satu sama lain, juga setiap momen yang terjadi. Kami tidak membiarkan satu momen pun terlewati.
            Gue menyadari bahwa ketika kami terpaksa harus mempertaruhkan nyawa di jalan itu, kami tidak bisa meminta tolong pada orang lain. Biasanya kami pasti akan memanggil orangtua, mengandalkan pacar, atau teman, namun kali itu kami benar-benar harus berjuang sendiri.
Itulah pelajaran paling berharga yang gue dapatkan. Bahwa suatu hari nanti, suka tidak suka, mau tidak mau, akan datang saatnya ketika keadaan tidak memungkinkan kita untuk meminta tolong pada orang lain. Kita harus berjuang sendiri, apalagi jika melibatkan nyawa di dalamnya. Kita hanya bisa menyelamatkannya dengan usaha kita sendiri.
Untuk Ilham, terima kasih sudah membawa gue dengan selamat. Untuk Cibow, terima kasih sudah mengkhawatirkan muka pucat gue. Untuk Marsekal, terima kasih untuk pinjaman jaket barunya. Untuk Moudy, terima kasih untuk pelukan penenangnya. Untuk Aul, terima kasih untuk sesi curhat di depan warung. Untuk Lubna dan pacarnya, terima kasih sudah mengizinkan gue menumpang di mobil kalian dalam perjalanan pulang.
Dan untuk XII-IPA 2, terima kasih untuk pengalaman yang begitu berharga ini.

NB : Bara dapat juara 3 di stand up comedy loh, yeah~ standing applause for Bara :D

Hari Pakai Kerudung, 8-11-13
Setelah makan malam ditemani sukro

Dan diiringi lagu Mirrors versi Boyce Avenue