Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Januari 2015

Fisika dalam Cinta

            Kau adalah jalan tanpa muara.
            Kau memberiku harap, namun tak juga genap.
      Kau mengajakku untuk menyelami setiap sudut istimewamu, lalu memaksaku mengingat kemungkinan yang jelas tak ada.
            Kau matahari yang menyinariku, tanpa sekalipun mampu kerasakan hangatnya.
            Kau dan aku.
Sesingkat kalimat itu, kau bawa asaku menuju lingkaran di mana hanya ada kau yang sanggup memberiku daya. Kau tak lelah menganugerahi kepiawaianmu dalam menyerapku, lalu melepasku. Kau adalah sang hati tanpa pasti, sebentuk nurani tanpa hakiki.
            Aku membiarkanmu terus berlari. Memutari jalan ini, meski hanya menemukan perih.
            Aku menunggumu tanpa henti. Mengharap kau mengerti, namun tak juga menuai pasti.
           Kau berada dalam dimensi tempat impianku bersemi. Dari setiap sisi, kau menawanku untuk tak beranjak pergi. Kau terasa abadi. Seperti daun-daun yang terhenti ketika angin melirih.
         Ingatkah kau ketika bumi memilih untuk memantulkanmu ke bagian yang lain sementara aku terkungkung dalam gravitasi?
          Kau tak peduli, karena bagimu aku hanya denting yang mengisi sepi. Namun, mengapa kau tak berhenti menghampiri? Tidakkah cukup segala tekanan dalam seluruh luas hatiku ini? Bahkan saat hati ini disandingkan dengan kesanggupannya, mustahil kau temukan arti. Segalanya tertutup rapat, tersimpan seiring berlalunya hari.
     Namun aku tak sanggup mengabaikanmu. Jarak ini hanya membuat waktuku untuk merindukanmu semakin sulit. Aku hanya terus bermimpi, meminta bumi untuk menarikmu kembali. Tidakkah itu suatu hal yang sia-sia? Sementara aku tahu, kita bukanlah kutub yang berlawanan. Bagaimana caraku menarikmu?
        Karena ketika aku menginginkanmu untuk rebah di tangan ini, kau telah terlingkupi sebentuk lengan lain. Lengan yang tak menjadi kepunyaanku. Lengan yang tak akan membawamu padaku.
         Kau dan aku. Aku ingin suatu hari nanti, kita akan menjadi resultan yang berlawanan arah. Agar kita mampu saling meniadakan. Sehingga jalan kita tak harus saling bertumbukan. Dan kehadiran kita tak lagi menjadi beban.


27-01-15
Setelah galau karena Kuroko no Basuke season 3
Ditemani lagu Pupus dari Dewa 19

Selasa, 31 Desember 2013

Rival In New Year's Eve

Cloudy melangkah memasuki kelas barunya, lalu duduk di bangku dekat pintu tanpa menoleh untuk melihat teman sekelasnya. Ini adalah tahun pertamanya di SMA, namun Cloudy tidak merasa harus mencari teman. Alih-alih mengajak berkenalan orang di belakangnya, ia justru mengeluarkan novel Angels and Demons karya Dan Brown dan selanjutnya tenggelam dalam cerita itu.
            Ares bersiul pelan seraya memutar stik drum di tangannya. Kakinya menjejak mantap seiring dengan langkahnya yang mendekati pintu kelas. Ini adalah tahun pertamanya di SMA, dan Ares sungguh tidak sabar untuk bertemu dengan teman-teman barunya. Ares memandang berkeliling, dan tanpa sengaja menghentikan putaran stik drum di tangannya. Tak ayal stik drum kesayangannya melayang bebas dan mengetuk kepala seorang gadis.
          Sontak suara gaduh yang mengisi ruang kelas lenyap. Setiap pasang mata memandang ke arah bangku deretan depan, dan setengah tidak percaya ketika melihat Ares—siswa terpopuler angkatan tahun ini versi MOS—sedang mengusap kepala seorang gadis tidak dikenal.
        “Lo nggak apa-apa, kan? Maaf ya, gue nggak sengaja.” ucap Ares tulus.
      Cloudy menatap Ares dengan pandangan dingin, lalu menepis tangan Ares dari puncak kepalanya. Tanpa menyahut, Cloudy menunduk dan kembali membaca. Mengabaikan Ares.
        “Gue benar-benar minta maaf. Lo nggak marah, kan?” tanya Ares.
        Kini di sekeliling mereka sudah berkumpul penonton yang didominasi oleh siswa perempuan. Tentu saja mereka sibuk mencari perhatian Ares, namun Ares mengacuhkan mereka dan tetap menunggu dirinya dimaafkan oleh gadis bermata dingin di hadapannya.
         “Ayolah, kita ini teman. Sebagai teman harus saling memaafkan.” lanjut Ares.
         “Gue bukan teman lo dan sampai kapan pun gue nggak akan jadi teman lo.” sahut  Cloudy datar.
        Terang saja sahutan dari Cloudy mendapatkan banyak protes dari penonton. Mereka balas mencela Cloudy dan membela Ares. Namun sekali lagi, Ares mengabaikan mereka.
        “Kenapa lo nggak mau jadi teman gue?” tanya Ares dengan rasa ingin tahu yang murni. Sama sekali tak terdeteksi nada lain yang mengindikasikan bahwa Ares tidak serius.
          Cloudy mendongak, menatap Ares tepat di bola matanya tanpa ekspresi sedikit pun.
      “Karena lo tipe cowok yang nggak punya masa depan. Cuma bisa mengandalkan tampang dan kekayaan orangtua, menganggap sekolah sebagai ajang untuk pamer, dan satu-satunya mata pelajaran terpenting adalah bergaul.” jawab Cloudy tenang.
          Penonton semakin riuh protes, sementara Ares tersenyum mendengar jawaban itu.
          “Jadi menurut lo cowok yang punya masa depan itu seperti apa?” tantang Ares.
         “Yang masuk ke sekolah unggulan tanpa uang sogokan, selalu datang tepat waktu, selalu mengerjakan tugas, nggak nyontek saat ujian, jadi siswa aktif berprestasi, dan bisa jadi pemimpin di kelompok apa pun. Sudah pasti, masuk peringkat satu di kelas adalah kewajiban utama.” jelas Cloudy.
       Ares memudarkan senyumnya, lalu membalas tatapan Cloudy dengan kilat tegas dalam matanya. Dengan nada terkendali yang menekan setiap katanya, Ares membuat Cloudy mematung.
           “Gue akan buktikan kalau gue mampu jadi cowok yang punya masa depan versi lo. Gue bahkan bisa jadi lebih baik dari itu. Saran gue, lo harus siap-siap untuk mengakui gue sebagai teman lo. Dan saat hari itu datang, dengan segala hormat gue meminta lo untuk mengubah pemikiran dangkal lo dalam menilai orang lain. Karena orang yang lo nilai jelek, mungkin akan jadi lebih baik dari lo.” ujar Ares tegas.
         Setelah itu, Ares berjalan menuju bangku deretan belakang dan menyapa teman-temannya. Cloudy mengikuti setiap langkah Ares dengan tatapan datarnya, lalu kembali menunduk dan melanjutkan bacaannya. Sementara Ares menatap Cloudy dengan seulas senyum tipis yang sulit diartikan.

***

          “Pertanyaan terakhir!” seru Pak Kean, guru PKn yang menjadi pembaca pertanyaan di lomba Cerdas Tingkat Satu tahun ini. Beliau sengaja mengulur waktu, membuat suasana semakin menegangkan dan lebih dramatis.
         Setiap tahun SMA Blueshine selalu mengadakan pekan pelajaran di akhir tahun, yang isinya adalah berbagai jenis lomba berbau pelajaran. Hampir seluruh mata pelajaran dilombakan, dan lomba yang paling dinantikan adalah lomba Cerdas Tingkat Satu. Selain karena seluruh siswa diwajibkan berpartisipasi, lomba ini juga sebagai alat pengukur wawasan dan ingatan para siswa. Sudah pasti pemenang dari lomba Cerdas Tingkat Satu adalah siswa tercerdas di SMA Blueshine.
        Tahun ini, dua peserta terakhir yang memperebutkan gelar siswa tercerdas kelas sepuluh adalah Cloudy Navasli dan Ares Pragata. Mereka berdua bersaing ketat hingga babak terakhir, bahkan skor mereka pun sama. Pertanyaan terakhir inilah yang akan menjadi penentu kemenangan untuk siswa tercerdas tahun 2012.
        Ekspresi tegang penuh tekad tergambar jelas di wajah Cloudy. Gadis itu bahkan sudah meletakkan tangan di atas tombol bel. Sementara Ares yang berada di seberangnya, duduk bersandar dengan santai. Cowok itu sungguh tenang dan penuh percaya diri.
            “Akan tumbuh menjadi apakah spora tumbuhan lumut?” tanya Pak Kean lantang.
            Cloudy langsung memencet tombol.
            “Protalium.” jawab Cloudy tegang.
            “Salah! Kesempatan menjawab dilempar pada Ares!” seru Pak Galih, juri jawaban.
            Ares mendekatkan bibirnya pada mikrofon.
            “Protonema.” jawab Ares tenang.
            “Benar!” seru Pak Galih.
            Seluruh penonton yang memenuhi aula bertepuk tangan dan bersorak gembira. Sejak awal mayoritas siswa yang menonton memang mendukung Ares, bahkan beberapa guru juga. Tentu saja hal ini berdasarkan fakta bahwa Ares adalah siswa yang aktif, mempunyai lebih dari satu lusin sifat terpuji, salah satu atlet taekwondo paling berbakat, dan musisi terhebat yang dimiliki SMA Blueshine. Bahkan dia sudah dicalonkan menjadi ketua OSIS untuk tahun ajaran berikutnya.
        Setelah menerima piala, Ares turun dari panggung dan menyambut ucapan selamat dari teman-temannya dengan senyum ceria. Ia tertawa lepas dan membalas setiap ucapan dengan kalimat terima kasih yang tulus.
            Semua orang menyukai Ares. Awalnya karena kelebihan fisiknya, namun semakin lama orang-orang menyadari bahwa Ares sangat cerdas dan rendah hati hingga mampu berteman dengan siapa pun.
Berbeda dengan Cloudy yang nyaris tidak memiliki teman dan selalu sibuk dengan dunianya. Hampir tidak ada yang mengenal Cloudy. Yang mengenalnya hanya guru atau teman sekelasnya, yang kebetulan tahu namanya dari buku absensi.
           “Selamat, Cloud. Permainan lo bagus. Gue senang bisa ketemu lo di final dan belajar banyak dari lo.” kata Ares tulus sambil mengulurkan tangan.
            Cloudy menatap Ares dengan tatapannya yang biasa; datar.
            “Tahun depan, gue nggak akan kalah.” balas Cloudy. Kemudian ia membalikkan tubuh dan berjalan keluar dari aula.
Tepat saat Cloudy melangkah melewati pintu, setetes air mata meluncur menuruni wajahnya. Meninggalkan Ares yang berdiri terpaku di tempatnya.

***
           
            Satu tahun kemudian

            Sorak sorai penonton yang penuh dengan semangat, membahana di aula SMA Blueshine. Lomba Cerdas Tingkat Satu yang memasuki pertanyaan terakhir membuat suasana semakin menegangkan.
           Segalanya hampir sama seperti tahun sebelumnya, namun kini yang membedakan adalah skor mereka yang berselisih satu angka—dengan skor Ares unggul—dan bahwa ini lomba Cerdas Tingkat Satu terakhir yang bisa diikuti oleh Cloudy. Setelah ini, sama sekali tidak akan ada kesempatan untuk Cloudy.
            “Pertanyaan terakhir! Sebutkan manfaat dari tumbuhan lumut!” ucap Pak Kean.
          Ares dan Cloudy sama-sama terdiam. Juri memberi kesempatan sepuluh detik untuk berpikir sebelum melemparnya pada Cloudy, lalu pada Ares.
            “Waktu habis! Sebutkan jawaban Anda, Cloudy Navasli.” seru Pak Galih.
            “Sebagai obat kanker.” jawab Cloudy.
            “Salah! Sebutkan jawaban Anda, Ares Pragata.” kata Pak Galih.
            Seluruh penonton mulai bersiap untuk bertepuk tangan, tahu bahwa jagoan mereka akan kembali memenangkan lomba tahun ini.
            Selama sesaat Ares memandangi Cloudy dengan tatapan lekat, namun gadis itu tetap bergeming. Tak mau menatapnya meski untuk satu detik.
            “Saya tidak tahu.” jawab Ares kemudian.
            Semua orang yang berada di aula membelalakkan mata dan menatap Ares dengan pandangan tidak percaya. Jika Ares salah menjawab, sudah pasti mereka bisa mengerti. Namun Ares justru menjawab tidak tahu. Hal ini menciptakan tanda tanya besar di kepala setiap orang, termasuk Cloudy.
            “Skor akhir untuk Ares Pragata adalah tiga puluh tiga dan Cloudy Navasli tiga puluh dua. Dengan ini, Ares Pragata dinyatakan sebagai pemenang lomba Cerdas Tingkat Satu tahun 2013!” seru Pak Dhoni, kepala sekolah SMA Blueshine.
          Penonton langsung berseru dan bertepuk tangan meriah. Mereka bahkan sudah menciptakan lagu untuk kemenangan Ares. Segera saja aula yang tadinya sunyi senyap kini seakan bergetar karena berbagai jeritan dan siulan.
        Ares menerima piala, lalu turun dari panggung dan menerima ucapan selamat dengan senyum. Beberapa kali ia menganggukkan kepala, namun matanya tetap bergerak mencari seseorang. Setelah menemukan orang itu, Ares segera melangkah meninggalkan teman-temannya yang menatapnya dengan bingung.
            “Cloud, tunggu!” seru Ares seraya menarik tangan Cloudy.
            Gadis itu berbalik, lalu menatap Ares. Tatapan datarnya tetap tidak berubah.
         “Selamat atas kemenangannya. Lo memang hebat dan layak untuk gelar siswa tercerdas.” ucap Cloudy tenang.
           Ares menatap Cloudy tanpa mengendurkan cengkraman tangannya. Tidak terasa sakit, namun Cloudy merasa tidak nyaman. Cloudy tahu tak lama lagi air matanya akan mengalir di wajahnya, dan ia tidak mau menangis di hadapan rivalnya.
            “Gue nggak butuh ucapan selamat dari lo.” sahut Ares.
            Cloudy tersenyum miris. Gadis itu tahu, yang diinginkan Ares adalah pengakuan kekalahannya.
           “Jadi lo mau gue minta maaf dan mengakui ke seluruh penghuni sekolah bahwa gue kalah dari lo yang dulu gue nilai sebagai cowok tanpa masa depan? Atau lo punya permintaan lain yang lebih kreatif dari itu?” tanya Cloudy.
            Hening. Tanpa mereka sadari, aula kini sudah berubah menjadi hening. Bahkan tarikan napas pun dapat terdengar dan bergema di ruangan itu.
            “Cukup, Ares.” bisik Cloudy.
            Ares menahan kalimat di ujung bibirnya, melepas pegangannya pada tangan mungil itu, dan sekali lagi membiarkan gadis bermata sekelam langit malam itu melangkah pergi meninggalkannya.

***

Hamparan sawah dengan perbukitan sebagai latar belakang adalah objek yang paling mendekati kesempurnaan bagi Cloudy, atau setidaknya sebelum sosok Ares Pragata menghantui hidupnya dan membuat segala hal di sekitarnya nampak tidak berarti.
Cloudy menatap hampa pemandangan indah di hadapannya, membiarkan tubuhnya berguncang mengikuti gerakan mobil yang dikemudikan ayahnya melewati jalan berbatu. Waktu menuju pergantian tahun seakan berlari sementara Cloudy hanya berdiam diri. Merenungi nasib; menyesali dua kali kegagalannya mengalahkan Ares dalam lomba itu.
“Cloudy, ayo turun.” ajak Vander—kakak Cloudy—seraya menepuk lengan adiknya.
Cloudy menghela napas, lalu melangkah keluar dari mobil dan langsung berhadapan dengan sebuah danau yang di kelilingi villa unik bernuansa kayu. Udara di sekelilingnya yang sangat sejuk mendukung kilau warna oranye lembut yang tengah menyelimuti langit, seakan mencoba menina-bobokan saraf-saraf yang tegang. Cloudy mengerjap kagum dan memutuskan dalam hati bahwa ia menyukai tempat itu.
Sementara Cloudy membiarkan matanya menjelajahi villa itu, Vander sibuk dengan ponselnya untuk mengetik. Tak lama kemudian ponselnya berbunyi, membuat Cloudy melayangkan pandangan bertanya.
“Ya, gue di Bogor. Nama tempatnya Panjang Jiwo, di kampung Cijulang. Balik ke Jakarta lusa. Lo ikut gabung saja. Orangtua gue pasti nggak keberatan. Gue tunggu ya.” ucap Vander lugas.
            Setelah Vander menurunkan ponsel, ia membalas tatapan adiknya yang lebih muda tiga tahun darinya dengan seulas senyum riang.
            “Kamu ingat cerita tentang teman satu klub taekwondo Kakak itu, kan?” tanya Vander.
            “Ya. Dia lebih muda dari Kakak tapi kemampuannya lebih hebat dan yang membuat Kakak semakin kagum adalah karena dia itu punya cerita hebat yang sayangnya nggak mau Kakak ceritakan ke aku.” jawab Cloudy.
            Vander tertawa dan mengangguk.
            “Nah, dia mau gabung sama kita. Gimana menurut kamu?” balas Vander.
            “Setelah Kakak minta dia untuk datang, Kakak baru tanya pendapat aku. Memang ada gunanya?” sahut Cloudy datar.
            Gadis itu membalikkan tubuh sementara Vander menggeleng pasrah, menyadari sikap dingin adiknya sudah kembali naik ke permukaan. Vander hanya bisa berharap, kedatangan temannya akan mencairkan dinding es dalam diri Clody.
        Namun harapan tetap menjadi harapan, karena beberapa jam kemudian sikap dingin itu justru membalut Cloudy dengan sempurna. Cloudy bahkan tidak bersedia mengucapkan sepatah kata pun selama makan malam berlangsung. Ia hanya diam, mengabaikan setiap pertanyaan paling sederhana sekali pun.
           Setelah menyelesaikan makannya, Cloudy meminta izin untuk pergi ke kamarnya. Kedua orangtuanya hanya mengangguk, tak ingin mengusik kegundahan gadis kecilnya yang sedang beranjak dewasa. Sedangkan Vander menghela napas lelah melihat tingkah polah adiknya yang sungguh tidak bisa dikategorikan sebagai orang ramah.

***

            Cloudy melangkah cepat menuju tangga demi menghindari sosok itu. Cloudy tidak menyangka hantu dalam benaknya bisa mewujudkan diri secara nyata dalam waktu secepat kilat. Cloudy berpikir ia bisa melewati malam tahun baru dengan nyaman dan membosankan seperti biasa, namun kenyataan berkata lain dengan menghadirkan sosok itu; Ares Pragata.
            “Cloud!” panggil Ares lantang.
        Sontak puluhan tatap mata tertuju padanya, namun ia tidak peduli karena bukan gadis yang dipanggilnya yang menoleh. Ia tetap memanggil dengan suara lantang, sementara kedua kakinya berusaha menjajari langkah Cloudy.
            Ketika akhirnya berhasil membuat Cloudy menghentikan langkah, Ares menghela napas lega.
            “Gue harus jawab pertanyaan lo.” ucap Ares.
            “Gue nggak pernah nanya apa pun ke lo.” sahut Cloudy.
           Ares berdecak, lalu mengacak rambutnya dengan gemas. Tanpa kata, ia menarik tangan Cloudy menuju ujung danau tempat berdirinya puluhan lilin. Alih-alih romantis, Ares merasa konsep itu terlalu berkesan menghemat listrik. Atau mungkin dirinya saja yang tidak diberkati jiwa romantis.
        “Apa dua kali kemenangan atas gue belum cukup, Ares? Bagi gue, lo sudah lebih dari cukup membuktikan diri lo. Gue nggak tertarik untuk terlibat dalam hal apa pun lagi bareng lo. Gue sudah merasa cukup. Lebih dari cukup.” kata Cloudy dingin. Meski begitu, kedua tangannya terkepal erat demi menyembunyikan getarannya.
            Ares memandang Cloudy lekat, membiarkan cahaya lilin membuat bayang gelap dari gadis sedingin es di hadapannya. Ares mengagumi Cloudy, bersamaan dengan kesadaran meresahkan bahwa jantungnya tak mau berdetak normal.
            “Bisa dipercepat? Gue nggak punya waktu selamanya cuma buat berdiri di sini dan membiarkan lo meneliti gue seperti artefak di museum.” ucap Cloudy datar. Tetap tanpa menatap Ares.
            Ares menarik napas dalam-dalam, lalu mempersempit jarak dengan tambahan satu langkah. Kedua tangannya menyentuh bahu Cloudy lembut, memaksa gadis itu menatapnya.
            “Satu minggu yang lalu, lo bertanya apa gue punya permintaan lain yang lebih kreatif selain meminta lo untuk minta maaf. Saat itu gue terlalu ragu untuk meminta, tapi setelah berpikir ulang selama ribuan kali, akhirnya gue yakin bahwa cuma ini satu-satunya permintaan yang bisa gue minta ke lo.” sahut Ares serius.
            Cloudy terpaku dalam bayang semu sementara waktu berlalu. Mungkin ia hanya meracau, namun gadis itu yakin bahwa kini mereka membeku. Seakan hanya ada mereka dalam satu frame itu.
“Gue mau lo tersenyum untuk gue, Cloud. Gue mau lo menatap gue dengan lembut, tanpa sinar persaingan. Dan gue mau lo menangis di bahu gue, bukan di balik punggung gue.” ucap Ares sungguh-sungguh.
            “Sejak awal gue nggak berminat jadi anak tercerdas. Gue cuma mau lo bisa lihat gue dan jadi teman gue. Tapi semakin gue jadi orang seperti yang lo bilang akan punya masa depan, lo justru semakin menjauh. Jadi juara umum, atlet taekwondo, musisi hebat, dan ketua OSIS, semua itu gue lakukan supaya gue bisa jadi teman lo. Gue mau jadi teman lo, bukan rival lo.” lanjut Ares lembut.
            Cloudy menggeleng lemah.
            “Lo bohong. Lo cuma kasihan sama gue.” sahut Cloudy.
            Ares tersenyum sendu, membiarkan gadis di hadapannya melihat dirinya apa adanya.
           “Beberapa hari sebelum MOS, kedua orangtua gue meninggal. Mereka pergi dan membiarkan gue melewati masa-masa itu sendiri. Kakak perempuan gue tinggal di Singapura dan dia cuma merasa berkewajiban untuk memenuhi kebutuhan finansial gue. Apa lo bisa membayangkan seperti apa rasanya? Ketika semua orang menganggap gue sempurna dan memuja gue, gue justru merasa muak dan tersesat. Cuma lo yang menganggap gue normal. Setelah pertemuan konyol kita itu, gue merasa normal. Gue mampu untuk kembali berharap. Setiap harinya setelah hari itu, gue selalu memikirkan lo dan cara-cara yang memungkinkan gue untuk membuat lo melihat gue. Tanpa sadar lo menjadi candu bagi gue. Gue menjadi lebih kuat karena lo, Cloud. Gue mampu melangkah tegak demi lo. Bagi gue, lo adalah harapan, Cloudy Navasli.”
         Cloudy menangis. Ia membiarkan air mata berguguran membasahi wajahnya. Benaknya dipenuhi berbagai gambaran tentang sosok Ares yang berdiri di hadapan makam kedua orangtuanya dan tetap mampu menjalani hidup dengan baik. Ares tidak menyia-nyiakan apa pun. Ares justru mensyukurinya. Sedangkan Cloudy, apa yang dia lakukan selain mementingkan dirinya sendiri?
Kali ini, Cloudy membiarkan Ares memeluknya, menenangkannya dengan sabar dan penuh kelembutan. Sementara Cloudy menyesali seluruh prasangka buruk yang telah ditimbunnya.
            “Terima kasih karena lo mau nangis di bahu gue. Lo tahu? Itu adalah keinginan terbesar gue selama dua tahun belakangan ini.” aku Ares dengan wajah sedikit memerah.
            Cloudy tertawa pelan seraya mengurai pelukannya.
            “Lo itu punya segalanya tapi justru mau gue nangis di bahu lo? Benar-benar konyol.” sahut Cloudy.
           Ares mengangkat bahu acuh tak acuh, sementara bibirnya membentuk sebuah lengkung sempurna yang terlihat manis.
            “Tapi lo tahu, keinginan terbesar gue saat ini adalah menjadi satu-satunya cowok yang selalu ada di samping lo dan jadi tempat bersandar lo. Lo setuju untuk mengabulkan keinginan gue?” tanya Ares penuh harap.
          Cloudy merasa jantungnya berhenti berdetak selama sesaat, kemudian kembali berdetak dengan kecepatan luar biasa cepat. Setelah hening menegangkan yang terasa sangat lama, akhirnya Cloudy tersenyum tipis.
            “Gue akan jawab, tapi bukan sekarang.” jawab Cloudy.
           Ares membalas senyum Cloudy dengan tulus, membiarkan kedua tangannya menangkup wajah cantik di hadapannya.
            “Gue tunggu.” sahut Ares tenang.
Malam itu, diiringi ledakan warna-warni kembang api yang mewarnai langit, Cloudy tertawa lepas bersama keluarganya. Mereka mengingat segala hal yang mengisi tahun 2013 seraya mengharapkan segala hal terbaik untuk tahun 2014.
Cloudy menatap wajah Ares yang dihiasi tawa riang dengan hati mengucap syukur. Pada akhirnya ia benar-benar tahu bahwa Cloudy Navasli hanya memiliki satu jawaban untuk Ares Pragata. Sekarang atau pun nanti, hanya akan ada satu jawaban.
            Dan jawaban itu tentu saja bukan tidak.


Senin, 29 Juli 2013

Malaikat Pendamping Hati

Malaikat Pendamping Hati

            Aku cukup puas dengan hidupku. Bukan berarti bahagia, meskipun aku nyaris memiliki segalanya : keluarga yang berkecukupan dan juga menyayangiku, kelebihan fisik yang tidak dipunyai semua gadis, serta sahabat yang selalu mendukungku. Aku merasa belum benar-benar bahagia, karena aku ingin memiliki seseorang yang mencintaiku. Bukan dalam artian sahabat atau keluarga, namun seseorang yang menjadi pendamping hatiku.
Sudah lebih dari dua puluh kali aku berganti pacar dalam waktu satu tahun terakhir, tapi tidak ada satu pun yang mampu menyentuh hatiku. Sering kali aku merasa iri pada Adhis dan Prita, kedua sahabatku. Mereka memiliki pacar, yang meskipun menurutku biasa saja, tapi dapat membuat mereka bahagia. Entah apa yang salah pada diriku.
            Aku mendesah dan mengangkat wajahku dari layar laptop untuk menatap seseorang yang duduk di seberang mejaku. Dia adalah seorang pemuda bertubuh tinggi dan tegap, dengan kulit berwarna cokelat muda yang menurutku terlihat sangat memesona, serta rambut pendek sedikit ikal berwarna hitam. Aku tersenyum pada diriku sendiri saat kembali menundukkan wajah.
            Mungkin inilah yang salah pada diriku. Sudah satu tahun aku melakukan hal ini setiap hari sepulang sekolah : menempati meja di sudut kanan restoran yang terdapat di taman kota, dengan memakai seragam SMA, sesekali melirik pemuda yang juga memakai seragam SMA dan selalu menempati meja di seberang mejaku. Aku selalu memerhatikannya, mengagumi ketampanannya, dan berharap dalam hati akan datang keajaiban yang membuatku mengenalnya.
            Hari ini tanggal dua puluh dua Februari, tepat satu tahun sejak pertama kali aku melihatnya. Saat itu dia mengenakan kaus berwarna merah, celana jeans, dan topi berwarna hitam. Gayanya yang santai dan terkesan tidak peduli dengan sekitarnya membuatku terpaku menatapnya. Sejak saat itu aku selalu duduk di tempat ini dan memandanginya tanpa pernah merasa bosan. Setiap harinya justru membuatku semakin terpesona.
            Suara ringtone ponsel menyadarkanku pada kenyataan. Aku mengerjap dan segera membuka pesan singkat yang dikirimkan kakakku, isinya mengingatkanku untuk pulang sebelum Mami dan Papi pulang dari kantor. Aku mendesah, lalu mematikan laptop dan mulai membereskan barang-barangku. Tepat saat aku akan bangkit berdiri, seseorang berdeham dan menyapaku dengan suara ragu. Aku mendongak dan seketika ternganga melihat dia, pemuda yang selama ini aku kagumi.
            “Hai.” sapanya lagi.
            Aku tersadar dan langsung tergagap, namun untungnya aku masih bisa mengangguk dan tersenyum membalas sapaannya. Entah mengapa tiba-tiba lidahku terasa kelu dan otakku membeku. Aku hanya bisa menatapnya, mengagumi mata hitamnya yang terlihat begitu dalam, dan senyum tipisnya yang memikat. Aku tidak tahu ia jauh lebih tampan jika ditatap dari jarak dekat.
            “Sorry sebelumnya, komik yang lo pegang tadi Bleach volume berapa ya?” tanyanya sopan.
            “Eh, mmm, ti-tiga puluh tujuh.” jawabku gugup. Dalam hati aku memaki diriku sendiri yang bisa bersikap sebodoh ini.
            Dia tersenyum dan mengulurkan tangan. “Gue Ravidyo. Panggil aja Ravi.”
            “Marsya Carnetta.” sahutku seraya membalas senyum dan uluran tangannya.
            “Boleh gue panggil lo Netta?”
            Meskipun dalam hati bertanya-tanya, aku tetap mengangguk. Rasanya aku tidak bisa menolak apa pun yang diinginkan Ravi, dan anehnya hal itu tidak menggangguku. Saat ini aku merasa sangat bahagia.
            “Nggak keberatan ngobrol sebentar, kan?” tanya Ravi seraya duduk di hadapanku.
            Aku menggeleng dan bersorak dalam hati. Ternyata keajaiban itu benar-benar datang. Seandainya ini adalah mimpi, aku tidak ingin terbangun selamanya.

***

            Dua bulan kemudian
           
“Hayo, lagi lihat siapa? Mau selingkuh dari gue ya?” tegur Ravi seraya mencubit hidungku dan duduk di sampingku. Wajahnya terhiasi oleh senyum ceria.
Aku menyingkirkan tangannya dan balas mencubit lengannya. Ia tersenyum dan memasang ekspresi meminta maaf yang terlihat begitu memelas, hingga aku tidak tahan untuk tidak tertawa. Ravi ikut tertawa bersamaku, lalu membuka laptopnya dan menyalakannya.
Sudah dua bulan kami dekat. Bukan dalam ikatan pacar, karena sampai sekarang Ravi belum mengatakan apa pun tentang perasaannya dan mungkin saja ia hanya menganggapku sahabat. Hampir setiap hari kami duduk di meja favoritku, bercanda dan berbagi cerita. Ravi bersekolah di SMA Altrista dan sudah menginjak tahun terakhirnya sebagai siswa SMA. Sering kali aku menyesal karena dulu memutuskan untuk sekolah di SMA Bhakti Purnama, bukan SMA Altrista. Tapi aku tidak pernah mengatakannya pada Ravi karena aku takut ia akan berpikir bahwa aku menyukainya, meskipun kenyataannya memang begitu.
“Sekarang malah ngelamun. Pasti lagi mikirin gue ya?” goda Ravi sambil menyunggingkan seulas senyum bangga.
Aku mencibir. “Narsis gila.” balasku dengan wajah yang pasti terlihat menahan senyum.
Terkadang aku merasa Ravi tahu segalanya tentang diriku. Mulai dari kebiasaanku, kesukaanku, hingga sifatku. Sedangkan aku tidak tahu apa pun tentang dirinya kecuali fakta bahwa ia teman yang baik dan selalu menolongku serta melindungiku. Aku tahu ia berasal dari sebuah keluarga ternama di negeri ini, tapi Ravi tidak mau memberitahukan nama keluarganya padaku dan anehnya itu tidak membuatku terganggu. Aku justru merasa nyaman.
Aku tersenyum dan mengalihkan tatapanku pada Ravi yang sedang mengetik tugas sekolahnya. Ravi membalas tatapanku dan aku langsung salah tingkah.
“Nett, boleh nggak gue jadi pendamping hati lo?” tanya Ravi.
Aku membeku dan kembali menatapnya tanpa mampu mengeluarkan suara. Bukan karena kalimatnya yang tanpa basa-basi, tapi karena kata “pendamping hati” yang ia ucapkan. Seolah-olah Ravi tahu apa yang diinginkan hatiku.
Aku menatapnya dan mencoba mencari keraguan di mata hitamnya. Namun mata itu memberiku kesungguhan, kejujuran, dan ketulusan hingga aku merasa aku dapat tenggelam dalam tatapannya. Baru kini aku menyadari, bahwa sejak awal aku tidak hanya sekedar mengaguminya, tapi juga menyukainya dan bahkan kini mencintainya.
Setelah lama terdiam dan berpikir, akhirnya aku tersenyum dan mengangguk. Ravi membalas senyumku dan merangkulku. Sama seperti dua bulan yang lalu, seandainya ini adalah mimpi, aku tidak ingin terbangun lagi.

***

            “Ya ampun, Ravi ke mana sih?” gumamku gelisah. Aku kembali berjalan tak tentu arah di teras rumahku, sambil sesekali melihat jam yang melingkari pergelangan tangan kananku.
            “Marsya, kamu belum berangkat?” tanya Kak Sheira.
            Aku mendesah. “Ravi belum jemput. Kemarin dia bilang mau jemput jam tiga, tapi sekarang udah hampir jam empat belum dateng juga. Udah gitu pake acara matiin HP. Aku kan jadi bingung, Kak. Padahal hari ini kita satu bulanan, Ravi kok tega banget sih bikin aku cemas.” jawabku panjang-lebar.
            Kak Sheira tersenyum, lalu merangkulku dan berusaha menenangkanku. Saat aku mulai merasa tenang, sebuah mobil masuk melewati gerbang dan berhenti di depan teras rumahku. Seorang gadis yang sepertinya lebih muda dariku turun dari kursi penumpang dengan wajah pucat dan mata sembab. Ia berjalan menghampiriku dan menyunggingkan seulas senyum lemah.
            “Kak Netta?” tanyanya.
            Aku mengangguk dan semakin bertanya-tanya dalam hati karena selama ini yang memanggilku Netta hanya Ravi.
            “Aku Zhia, adiknya Kak Ravi.” katanya seraya mengulurkan tangan.
            Awalnya aku mengira Zhia mengulurkan tangan untuk mengajakku bersalaman, tapi ternyata tangannya memegang sebuah tempat CD dan ia memberikannya padaku. Aku segera menerimanya dan menatap Zhia dengan pandangan bertanya.
            “Ravi dimana?” tanyaku.
            “Aku berharap dia ada di surga sekarang.” jawab Zhia dengan suara serak. Matanya berkaca-kaca.
            Bagaikan ada petir yang menyambarku, aku terdiam mematung dengan ekspresi tak percaya. Jantungku berdebar cepat dan aku sungguh berharap ini hanya sebuah lelucon konyol yang disiapkan Ravi untuk membuatku menangis.
            “Apa maksud kamu?” tanyaku lirih.
            “Kak Ravi bunuh diri.” jawab Zhia dengan wajah dialiri air mata.
            “Nggak mungkin.” bisikku. Air mataku mengalir dan aku menggelengkan kepala, mencoba untuk membangunkan diriku dari mimpi buruk ini. Tapi saat Kak Sheira memelukku dan tangisku berubah menjadi jeritan, aku tahu aku tidak bermimpi.
Ini adalah kenyataan.

***

            Aku menatap CD yang ada di tanganku dengan nanar. Laptopku sudah dalam kondisi menyala, namun aku masih ragu. Ada rasa penasaran yang luar biasa menyelimuti hatiku, tapi entah mengapa terkalahkan oleh rasa takutku. Aku memejamkan mata, lalu menarik napas dalam-dalam. Dengan gemetar aku memasukkan CD itu, lalu mengklik tanda play.
            Wajah Ravi dengan senyum tipis memenuhi layar laptopku, membuatku menahan napas. Ia terlihat begitu sehat, tidak pucat seperti yang kulihat kemarin.

“Netta, aku benci tanggal dua puluh dua, karena tanggal itu selalu membuatku mengingat kejadian sepuluh tahun yang lalu, saat Bunda bunuh diri tepat di hadapanku. Tapi pendapatku itu berubah setelah aku melihat kamu di tanggal dua puluh dua Februari tahun lalu. Sejak itu setiap harinya aku selalu melihat kamu, semakin mengagumi kamu, dan berharap dalam hati bisa mengenal kamu. Kamu membuat hidupku jadi berbeda, memberiku harapan.” ucap Ravi dengan senyum ceria di bibirnya. Matanya menerawang mengingat kenangan yang sepertinya sangat membuatnya bahagia.
Aku mengembuskan napas yang sedari tadi kutahan, lalu menggigit bibirku.
“Hari di saat aku mengajak kamu berkenalan, sebenarnya adalah hari perjodohanku. Aku tahu ini terdengar kolot, tapi ini adalah tradisi untuk anak pertama keturunan keluarga Pratama. Hari itu aku memberanikan diri untuk menghampiri kamu, karena aku pikir, seandainya kamu mengabaikanku rasanya pasti tidak akan terlalu sakit. Tapi ternyata kamu tidak mengabaikanku. Dengan mata cokelat terangmu itu, kamu memberiku rasa yang jauh lebih besar dari bahagia. Dan saat itu juga aku sadar, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu, tanpa alasan.” lanjutnya lembut.
Setetes air mata mengaliri pipiku. Cepat-cepat aku menghapusnya, karena Ravi tidak suka melihatku menangis. Meskipun ia hanya menatapku lewat video ini, aku merasa ia masih berada di sini. Bersamaku. Mendampingiku.
“Aku berharap Ayah akan mengerti dan membiarkan aku memilih kamu. Tapi Ayah tetap teguh pada pendiriannya, dan hal ini yang membuatku tidak mampu bertahan. Bukan karena perjodohanku, tapi karena aku nggak sanggup menyakiti kamu. Aku nggak sanggup meninggalkan kamu demi gadis lain.” ucapnya. Nada suaranya berubah menjadi menyesal, dan aku bisa melihat kesedihan dalam mata hitamnya.
“Maaf karena aku pergi tanpa penjelasan. Aku tahu kamu pasti marah, sedih, kecewa, dan mungkin nggak akan pernah maafin aku. Tapi aku melakukan ini karena aku nggak sanggup menyakiti kamu. Aku nggak sanggup lihat kamu nangis. Mungkin menurut kamu tindakanku ini konyol dan bodoh, tapi inilah yang terbaik.”
Aku tidak sanggup lagi menahan air mata. Kubiarkan tetes bening itu mengalir turun, lalu kupeluk tubuhku erat-erat. Suara isakanku memenuhi kamar. Saat Ravi kembali berbicara, aku kembali mengigit bibir dan menahan napas.
“Aku harap, suatu hari nanti kamu memaafkanku. Aku hanya ingin kamu tahu, bahwa aku akan selalu menjadi malaikat pendamping hatimu. Dan selalu mencintaimu.”  ujar Ravi seraya tersenyum lembut. Ia meletakkan kepalan tangannya di dada kirinya, lalu mengulurkan jari telunjuknya. Seperti caranya selama ini ketika mengatakan selamat tinggal padaku.
            Aku terisak semakin keras, lalu meletakkan tanganku di dada kiri, dan mengulurkan telunjukku pada telunjuk Ravi di layar. Tepat ketika jariku menyentuh layar, wajah penuh senyum Ravi menghilang dan diganti dengan warna hitam pekat. Ketika aku menjerit memanggil Ravi, sebuah suara di hatiku berbisik. Aku nggak akan pernah memaafkan kamu, Ravi. Nggak akan pernah.


***

Minggu, 28 Juli 2013

The Last Gift

Aku terbangun di pagi hari yang cerah. Sinar matahari menembus masuk ke dalam kamarku melalui jendela dan menyinari sebagian dinding kamarku. Dinding kamarku yang berwarna pink entah bagaimana terlihat sangat indah saat terpapar sinar mentari pagi.
Aku tersenyum seraya bangkit berdiri dan berjalan menuju jendela. Kamarku terletak di lantai dua dan jendelaku menghadap langsung ke taman kompleks. Kusingkap tirai dan seketika mataku terkunci pada pemandangan di taman. Di sana sekelompok anak sedang asyik bermain, berlari, dan tertawa-tawa tanpa beban. Pipi mereka yang gemuk bersemu kemerah-merahan terkena sinar matahari. Serta-merta perasaan iri menyusup dalam diriku.
Aku Rissania Vera. Di usiaku yang hampir mencapai tujuh belas tahun, aku tidak memiliki sahabat. Aku tidak memiliki teman. Aku juga tidak memiliki pacar. Yang kumiliki hanya kasih sayang dari seorang Bunda dan seorang saudara kembar yang selalu senantiasa menemaniku, menjagaku, dan menyayangiku setulus hatinya.
Aku bisa bicara. Aku bisa berjalan. Aku bisa melihat. Aku memiliki wajah cantik dan juga keluarga yang berkecukupan. Sama seperti anak-anak itu.
Tapi untuk apa semua itu ada, jika aku tidak memiliki ginjal yang utuh? Untuk apa semua itu ada, jika aku hanya bisa menghabiskan waktuku di dalam kamar dan rumah sakit? Untuk apa semua itu ada, jika aku tidak mungkin menikmatinya? Sia-sia. Semuanya sia-sia.
Aku tertawa miris dalam hati. Betapa indahnya dunia jika kau bisa tertawa sesuka hatimu, menjejakkan kakimu di alam bebas, dan menatap langit biru tak berbatas. Tanpa sadar air mata kesedihan kembali mengalir membasahi wajahku. Isak tangis penderitaan itu kembali menyesakkan dadaku.
Aku membiarkan kesedihan kembali menggerogoti hatiku, menyusup ke dalam jiwaku, mengoyak-ngoyak pembuluh darahku, dan menghambat laju aliran napasku. Memang apa lagi yang bisa kulakukan selain meratapi nasib?
Kurasakan sepasang lengan kokoh meraihku ke dalam dekapannya. Mencoba menenangkanku. Menghiburku.
Jangan menangis, Rissa. Jangan menangis. bisik Kak Renal lembut.
Aku menggeleng dengan frustasi.
Kakak nggak tahu rasanya jadi aku! Kakak nggak ngerti! jeritku.
Tangannya semakin erat memelukku dan aku menumpahkan air mataku di bahunya.
Jangan sedih, Rissa. Semua akan baik-baik saja." ucapnya sungguh-sungguh.
Namun aku tidak bisa mendengar apa-apa lagi. Karena semuanya berubah menjadi gelap.

***

Ada seseorang yang menggenggam tanganku. Aku membuka mataku perlahan dan melihat langit-langit kamar yang berwarna putih dengan bau pembersih yang begitu menyengat. Aku  tahu ini adalah rumah sakit. Tempat yang sudah ratusan kali menjadi rumah singgahku.
Rissa? panggil Kak Renal pelan.
Aku menoleh ke arahnya dan mencoba tersenyum kecil.
Kakak kembarku ini bernama Renaldy Alfred. Dia laki-laki yang sempurna dan aku menyayanginya. Tak ada sedikit pun kekurangan dalam dirinya. Tidak seperti aku.
Berapa lama aku disini? tanyaku lirih.
“Tiga hari. jawab Kak Renal seraya membelai rambutku dengan lembut.
Apa? Aku tidak sadarkan diri selama tiga hari?
Minggu depan kamu akan menjalani operasi pencangkokan ginjal. Jadi, kamu harus siap-siap ya. kata Kak Renal seraya menyunggingkan senyum tenangnya yang selalu bisa membuat hatiku bahagia. Namun tidak kali ini.
Memangnya ada orang yang dengan rela mendonorkan ginjalnya? tanyaku bingung.
Ada. Kamu tenang saja. Semua pasti akan berakhir dengan baik.” jawabnya yakin.
Perlahan Kak Renal memelukku, mendekapku lembut di dadanya.
Rissa, kamu harus berjanji pada Kakak. Kamu akan tetap baik-baik saja. Kamu akan tetap tersenyum dan memandang langit biru tanpa kesedihan. Kamu akan tertawa, berlari, dan melanjutkan hidup kamu layaknya remaja lain. Kamu harus berjanji, apa pun yang terjadi, kamu akan selalu bahagia dalam hidup kamu. Kamu harus janji, Rissa. ucap Kak Renal serius. Nadanya dipenuhi dengan berbagai emosi yang tak bisa kugambarkan.
Aku tertegun. Entah mengapa, kurasa ada sesuatu yang tidak benar sedang terjadi.
Rissa, kamu janji? tanya Kak Renal sambil menatapku. Matanya memancarkan kesungguhan serta berjuta rasa sayang yang aku yakini selalu diberikannya untukku.
Aku terdiam sesaat. Aku memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi. Namun ketika kutatap kembali mata teduh sarat akan kejujuran milik Kak Renal, hatiku seakan diliputi keyakinan bahwa semua baik-baik saja. Aku memilih untuk mengenyahkan perasaan aneh itu, lalu lambat-lamba mengangguk.
Aku akan berjanji tentang hal apa pun, asalkan Kak Renal selalu ada di samping aku." janjiku sambil tersenyum lembut.
Kak Renal mengecup keningku, lalu berbisik.
Kakak akan selalu ada di hati kamu.

***

Sepuluh hari kemudian
Aku membuka mata perlahan. Entah untuk yang ke berapa kalinya dalam hidupku ini. Namun kali ini bukan Kak Renal orang yang pertama kulihat. Bukan senyum tenangnya yang menyapaku di awal kesadaranku. Bukan juga tangan hangatnya yang menggenggam tanganku.
Rissa? panggil Bunda lembut. Wajahnya menyiratkan duka mendalam. Meskipun begitu semburat lega tetap muncul di wajahnya.
Di mana Kak Renal? tanyaku lirih.
Dia baik-baik saja, Rissa. Dia bahagia sekarang. Sama seperti kamu.jawab Bunda.
Serta-merta firasat buruk membayangi perasaanku.
Bunda, di mana Kak Renal? Kenapa dia nggak ada di sini? tanyaku panik.
Bunda mulai menangis dan menutup wajahnya. Satu suara lirih berbisik dihatiku. Dan aku merasakan ada sesuatu yang berubah dari dalam ragaku. Seperti separuh nyawaku lenyap. Hilang. Meninggalkan rasa hampa yang tidak kumengerti.
Apa? Ada apa? Kenapa? Aku terus bertanya-tanya dalam hati. Hati kecilku terus membisikkan jawaban, namun aku tidak mau memikirkan kemungkinan itu. Tidak.
Bunda menyerahkan amplop berwarna kuning yang sedari tadi di pegangnya. Perlahan kubuka amplop itu. Ada tiga lembar kertas di dalamnya yang berisi tulisan tangan Kak Renal. Kubuka lipatan kertas itu dan kubaca lembar pertama dengan tangan gemetar.

Rissa
Saat kamu membuka surat ini, pasti aku sudah tidak ada disamping kamu. Aku minta maaf karena tidak bisa merayakan hari ulang tahun kita bersama-sama. Tapi aku harap, hadiah yang aku berikan cukup untuk menggantikan ketidakhadiranku.
Rissa, ada satu hal yang tidak pernah aku ceritakan pada kamu. Dulu, pada tanggal 14 Februari 1993, telah lahir bayi kembar. Bayi itu kemudian diberi nama Renal dan Rissa. Kamu tentu tahu itu. Tapi sebenarnya perut kita menyatu. Kita ini kembar siam. Setelah dilakukan pemeriksaan, kita bisa dipisahkan. Hanya saja salah satu dari kita akan kehilangan satu ginjalnya, karena di perut yang menyatu itu hanya terdapat tiga ginjal. Jadi terpaksa, salah satu dari kita harus hidup dengan satu ginjal.
Akhirnya Ayah dan Bunda memilih untuk memberikan aku dua ginjal dan mengorbankan kamu. Sungguh, seandainya saat itu aku tahu dan mengerti, aku tidak akan pernah mengorbankan kamu. Aku benar-benar minta maaf, Rissa. Karena aku, kamu harus merasakan kesedihan dalam hidup kamu, dan kamu juga harus kehilangan masa-masa indah yang seharusnya kamu rasakan. Maafkan aku.
Tapi sekarang aku sudah mengembalikan ginjal kamu. Anggap saja, ini sebuah hadiah ulang tahun terbaik yang bisa aku berikan.

            Aku menangis tersedu-sedu. Otakku seakan berhenti berpikir. Dan yang dapat kurasakan hanya rasa sedih tak berujung ini. Kubuka lagi lembar selanjutnya.

Kamu pernah bertanya padaku, apakah ada orang yang dengan rela memberikan ginjalnya untuk kamu? Tentu saja ada. Orang itu dengan bersuka rela akan memberikan apapun untuk kamu. Dia tidak hanya akan memberikan ginjalnya, tapi dia juga akan memberikan seluruh hidupnya untuk kamu. Kamu tahu kenapa? Karena dia sangat menyayangi kamu.
Maafkan aku jika saat ini aku membuat kamu menangis. Tapi percayalah padaku, aku melakukan semua ini untuk kebaikan kamu. Aku yakin, inilah jalan terbaik yang diberikan Tuhan untuk kita.
Terima kasih untuk tujuh belas tahun kehidupan yang sangat indah. Terima kasih untuk seluruh kasih sayang dan kepercayaan yang kamu berikan. Terima kasih sudah membuat hidupku sempurna dengan semua canda, tawa, air mata, dan senyum. Setelah ini, berjanjilah bahwa kamu akan baik-baik saja. Bahwa kamu akan tersenyum dan menatap langit biru tanpa kesedihan. Bahwa kamu akan melanjutkan hidup kamu layaknya remaja lain.
Berbahagialah untukku...

Isak tangisku semakin keras. Dadaku terasa sesak dan kepalaku berdenyut-denyut nyeri. Ya Tuhan, mengapa Kak Renal harus melakukan ini? Tidakkah ia tahu aku sangat membutuhkannya? Tidakkah ia tahu aku sangat menyayanginya?
Dengan hati yang sudah luluh lantak tak bersisa, kubuka lembar terakhir.

Percayalah padaku.
Walaup ragaku tak lagi kau lihat, kau sentuh, dan kau peluk, jiwaku tetap tinggal bersamamu.
Percayalah padaku.
Walau dunia berubah hingga tak lagi kau temukan cinta, cintaku tak kan pernah terhapus untukmu. Cintaku tetap abadi, bersemi dalam relung jiwamu.
Dan percayalah padaku.
Walau aku tak akan bisa lagi menemanimu, menjagamu, dan berada di sisimu, aku akan selalu ada di dalam hatimu.

Renaldy Alfred

***

Aku berdiri di hadapan makam Kak Renal. Angin sore yang berhembus dengan pelan seakan mencoba menenangkan batinku. Perlahan, aku duduk bersimpuh di samping makam dan mengelus permukaan batu nisannya.
Tertulis disana :
Renaldy Alfred Gunawan
14.02.1993  -  14.02.2010
Dia adalah lelaki terbaik yang pernah terlahir di dunia ini. Dia adalah kakak terhebat yang pernah dimiliki seorang adik. Dan dia adalah manusia tersempurna yang pernah ada dalam hidupku. Aku yakin, Tuhan akan memberikan tempat terbaik untuknya.
Sekarang aku tahu apa arti nama Kakak. ucapku seraya tersenyum lembut. Kukenang lagi hari-hari penuh warna yang kulewati bersama Kak Renal.
Senyumnya, tawanya, tatapan matanya, bahkan genggaman tangannya masih dapat kuingat dengan jelas. Seakan-akan ia ada disini bersamaku. Menemaniku, menjagaku, dan menyayangiku.
Renal. Diambil dari nama lain ginjal. Kakak diberi nama itu agar bisa menjadi ginjal di dalam kehidupanku. Dan benar, memang begitu kenyataannya. lanjutku pelan.
Aku menarik napas dalam, Kakak keliru saat mengatakan bahwa Kakak membuatku sedih, padahal sebenarnya Kakak-lah yang membuatku bahagia. Kakak juga keliru saat mengatakan bahwa Kakak membuatku kehilangan masa-masa indahku, padahal sebenarnya masa-masa indah itu aku rasakan saat ada Kakak di dalam hidupku. ujarku lirih.
Kuletakkan buket bunga matahari yang kubawa di atas makamnya, lalu bangkit berdiri dan berbisik pada angin sore yang membawa pesanku ke surga.
Thanks for loving me that much. I love you.  Always and forever.
Satu kertas yang kuletakkan di bawah buket bunga terbang ke langit tertiup angin. Aku tersenyum, lalu membalikkan tubuh dan mulai berjalan menjauh.

Aku percaya padamu.
Meskipun mentari tak kan memberikan sinarnya, rembulan meredupkan cahayanya, dan bintang menutupi kilaunya, jiwamu selalu ada bersamaku.
Aku percaya padamu.
Meskipun seluruh dunia membenciku, memusuhiku, dan ingin melukaiku, kau akan selalu menyayangiku, menjagaku, dan mencintaiku setulus hatimu.
Dan aku percaya padamu.
Meskipun jiwamu meninggalkan dunia ini, kau akan selalu hidup di dalam hatiku.

Rissania Vera