Jumat, 08 November 2013

XII IPA 2 : Goes to Suka Mantri

4 November 2013 adalah salah satu hari paling berkesan sepanjang 16 tahun 9 bulan 3 hari hidup gue. Tanpa sedikit pun prasangka apalagi bayangan, gue pergi ke Suka Mantri bersama seluruh warga XII-IPA 2 untuk pengambilan foto buku tahunan. Tapi di sini gue nggak akan membahas tentang acara fotonya, karena gue mau membahas tentang rasa kekeluargaan yang tumbuh di antara siswa/siswi XII-IPA 2.
            Dimulai ketika kami berkumpul di depan hall untuk berangkat ke Suka Mantri. Setelah menunggu selama kira-kira empat puluh menit, kami semua akhirnya berkumpul. Tanpa diduga, Bara memutuskan untuk mengikuti lomba Sport 7 yang sedang berlangsung di hall yaitu stand up comedy. Meski kami terburu-buru dan dibayangi ketakutan akan kehujanan di jalan, kami tetap mendukung Bara dan tertawa pada jokes-nya yang terpusat pada pacar barunya.
            Kami berangkat dari sekolah sekitar pukul 4 sore dengan menggunakan dua mobil dan puluhan motor. Setelah mendaki gunung, melewati lembah, dan mengarungi ciliwung, kami sampai di sana ketika matahari tergelincir-terpeleset-tersoledad memasuki peraduannya.
            Jujur saja, jalan menanjak dan memutar untuk mencapai Suka Mantri sangat amat ekstrem. Gue sama sekali tidak pernah membayangkan akan melalui jalan seperti itu, terlebih ketika kabut menyelimuti dan hanya dengan beberapa orang tersisa. Rombongan kecil yang mendaki bersama gue adalah Ilham, Gulardi, Arif, Widyo, Khoolish, Aruum, Anneke, Riska Comeh dan sugar glider milik Widyo.
            Jalan berbatu-batu diiringi gerimis yang menitik membuat tingkat kesulitan semakin tinggi. Apalagi dengan adanya jurang-jurang di kedua sisi jalan dan tidak adanya lampu, kami semua begitu tegang. Gue yakin, para cowok yang membonceng cewek pasti merasa takut setengah hidup karena mereka tidak hanya mempertaruhkan nyawa mereka sendiri. Sekali mereka kehilangan keseimbangan, maka hanya Allah SWT yang tahu bagaimana kelanjutannya.
            Untungnya, Allah SWT masih melindungi kami. Dengan tubuh yang lelah dan jantung nyaris keluar dari rusuk, kami semua sampai di Suka Mantri. Udaranya dingin menggigit dan pemandangannya sangat indah. Di salah satu warung bermandikan cahaya dari lentera, kami menghabiskan petang dengan saling membagi makanan.
            Kemudian masalah sesungguhnya muncul. Kami terlalu lama berada di atas dan nyaris kehabisan waktu untuk turun ke bawah. Risikonya terlalu tinggi karena jalan bertebing curam tanpa penerangan jalan, ditambah kenyataan bahwa hujan mengguyur dengan sempurna. Akhirnya kami mengambil keputusan untuk segera turun dan saling memercayai satu sama lain. Kami bekerja sama untuk saling menjaga dan menguatkan selama proses turun berlangsung.
Setelah kami semua turun dengan selamat, gue mulai berpikir ulang tentang segala hal yang terjadi, dan memutuskan untuk menulis bagian-bagian terbaik dari perjalanan nekat kami.
            Kami menemukan kepercayaan, kerja sama, dan cinta untuk sesama saudara—meski di antaranya ada yang cinlok juga loh :p hehehe—di tempat bernama Suka Mantri. Ketika jiwa menjadi taruhannya, kami semua berhasil menyatukan setiap keping kepribadian demi keselamatan bersama.
            Gue rasa nggak ada satu pun kata yang pada akhirnya sanggup menggambarkan perasaan gue dan seluruh warga XII-IPA 2 ketika kami pulang dari tempat itu. Namun satu hal yang nampak jelas adalah kami semakin menghargai satu sama lain, juga setiap momen yang terjadi. Kami tidak membiarkan satu momen pun terlewati.
            Gue menyadari bahwa ketika kami terpaksa harus mempertaruhkan nyawa di jalan itu, kami tidak bisa meminta tolong pada orang lain. Biasanya kami pasti akan memanggil orangtua, mengandalkan pacar, atau teman, namun kali itu kami benar-benar harus berjuang sendiri.
Itulah pelajaran paling berharga yang gue dapatkan. Bahwa suatu hari nanti, suka tidak suka, mau tidak mau, akan datang saatnya ketika keadaan tidak memungkinkan kita untuk meminta tolong pada orang lain. Kita harus berjuang sendiri, apalagi jika melibatkan nyawa di dalamnya. Kita hanya bisa menyelamatkannya dengan usaha kita sendiri.
Untuk Ilham, terima kasih sudah membawa gue dengan selamat. Untuk Cibow, terima kasih sudah mengkhawatirkan muka pucat gue. Untuk Marsekal, terima kasih untuk pinjaman jaket barunya. Untuk Moudy, terima kasih untuk pelukan penenangnya. Untuk Aul, terima kasih untuk sesi curhat di depan warung. Untuk Lubna dan pacarnya, terima kasih sudah mengizinkan gue menumpang di mobil kalian dalam perjalanan pulang.
Dan untuk XII-IPA 2, terima kasih untuk pengalaman yang begitu berharga ini.

NB : Bara dapat juara 3 di stand up comedy loh, yeah~ standing applause for Bara :D

Hari Pakai Kerudung, 8-11-13
Setelah makan malam ditemani sukro

Dan diiringi lagu Mirrors versi Boyce Avenue

2 komentar:

  1. Haha makasih ucapan selamatnya, fua agak merinding baca pesan kesannya, bagus bgt. Lanjutkan nui~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yoha~ masama bar hehehe siap laksanakan :D makasih juga commentnya (y)

      Hapus